Laporan Keberlanjutan merupakan bagian penting dari kehidupan perusahaan atau entitas bisnis. Biasa disusun tiap awal tahun, Laporan Keberlanjutan berperan penting dalam melaporkan komitmen sebuah perusahaan terhadap pengelolaan dampak lingkungan, tata kelola, dan sosial dalam kegiatan usahanya.
Bagi perusahaan, Laporan Keberlanjutan dapat membantu membangun kepercayaan dengan stakeholder, baik investor maupun konsumen, sebagai bentuk transparansi perusahaan terhadap dunia yang lebih sadar terhadap keberlanjutan dan efek aktivitas manusia terhadap lingkungan, tatanan sosial, serta tata kelola. Selain itu, penyusunan Laporan Keberlanjutan akan “memaksa” perusahaan untuk melaksanakan manajemen risiko dan efisiensi secara efektif dengan melakukan pemeriksaan menyeluruh ke semua lini operasional.
Laporan Keberlanjutan yang mumpuni juga akan melengkapi perusahaan dengan keunggulan kompetitif dibandingkan para pesaingnya, sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan berkomitmen untuk mengikuti peraturan pemerintah, dalam kasus ini POJK No. 51/POJK.03/2017.
Namun, aspek kepatuhan terhadap peraturan pemerintah ini dapat menjadi pedang bermata dua, karena beberapa perusahaan “nakal” akan memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan Laporan Keberlanjutan sekadar pemenuhan aspek kepatuhan tersebut, sehingga berisiko melakukan greenwashing dalam pelaporannya.
Apa itu Greenwashing?

Sumber: unsplash.com
Greenwashing mengacu pada situasi ketika sebuah perusahaan membuat produk atau jasa mereka terkesan “ramah lingkungan” atau “berkelanjutan”, padahal kenyataannya perusahaan tersebut tidak melakukan hal-hal yang berkontribusi terhadap keberlanjutan Bumi atau malah memperparah kerusakan yang telah terjadi.
Sejarah mencatat banyak kasus perusahaan-perusahaan besar yang melakukan tindakan greenwashing sehingga mendapatkan kecaman massal dari publik. Kasus greenwashing yang paling terkenal tentu adalah “Dieselgate”, yang menimpa raksasa otomotif Jerman Volkswagen pada tahun 2015. Saat itu VW melakukan manipulasi peranti lunak pada mobil-mobil diesel mereka sehingga menciptakan ilusi bahwa mobil-mobil tersebut termasuk “diesel ramah lingkungan”, padahal kenyataannya tidak ada perubahan apa pun pada emisi yang dikeluarkan mobil-mobil tersebut. Kasus “Dieselgate” merusak reputasi VW sebagai sebuah perusahaan otomotif yang tepercaya dan bisa diandalkan.
Selain itu, kasus-kasus greenwashing lain yang terkenal adalah ketika IKEA kedapatan menggunakan kayu hasil penebangan ilegal di Rumania, alih-alih kayu dari hutan lestari buatan mereka seperti klaim mereka pada tahun 2024, serta skandal sedotan McDonald’s pada tahun 2019 ketika restoran cepat saji tersebut mengklaim bahwa mereka sudah mengganti semua sedotan plastik mereka dengan kertas, tetapi jenis kertas yang mereka gunakan adalah jenis kertas yang sulit untuk didaur ulang.
Sebuah perusahaan dapat dianggap telah melakukan greenwashing apabila kedapatan menggunakan istilah-istilah samar yang berkaitan dengan berkelanjutan dalam menggambarkan produk atau jasa mereka, melakukan manipulasi data (baik dengan menyembunyikan data-data penting maupun memberikan data-data palsu), membuat klaim berkaitan dengan kinerja berkelanjutan yang tidak ada buktinya, serta terdapat trade-off tersembunyi dalam kegiatan usaha (seperti proses pembuatan kemasan “ramah-lingkungan” yang pada kenyataannya melibatkan bahan-bahan atau proses pembuatan tidak ramah lingkungan).
Greenwashing membawa risiko besar bagi perusahaan karena tindakan tersebut akan merusak kepercayaan stakeholder (baik investor maupun konsumen) dan pasar terhadap perusahaan, menghambat aksi iklim nyata, membuat perusahaan harus berurusan dengan hukum, serta merusak reputasi perusahaan itu sendiri.
Apa Ciri-Ciri Laporan Keberlanjutan yang Terjebak Greenwashing?

Sumber: freepik.com
Selain lini operasional dan kegiatan usaha perusahaan, greenwashing dapat terjadi dalam proses penyusunan Laporan Keberlanjutan. Beberapa entitas sering kali melaksanakan manipulasi data untuk membuat Laporan Keberlanjutan yang dianggap baik dan memenuhi standar oleh otoritas relevan. Risiko tindakan greenwashing seperti ini lebih besar jika penyusunan Laporan Keberlanjutan dikerjakan secara in-house oleh perusahaan dan bukan oleh vendor pihak ketiga.
Berikut ini adalah ciri-ciri Laporan Keberlanjutan yang sudah masuk ke dalam ranah greenwashing.
- Menggunakan bahasa samar
Dalam penulisannya, Laporan Keberlanjutan harus menggunakan bahasa yang jelas, jujur, dan terbuka mengenai kegiatan usaha dan lini operasional perusahaan pada satu tahun terakhir. Penggunaan embel-embel seperti eco-friendly, sustainable, green product, green energy, dan lain sebagainya tanpa bukti pendukung yang konkret akan membuat Laporan Keberlanjutan terlihat sebagai buku berisikan pencitraan kosong belaka. Jika perusahaan tidak bisa menjelaskan alasan produk atau jasa mereka tergolong green, sustainable, atau eco-friendly, maka perusahaan tersebut bisa dibilang sudah melakukan greenwashing.
- Tidak transparan
Laporan Keberlanjutan menjelaskan secara gamblang performa sebuah perusahaan di bidang keberlanjutan selama satu tahun. Tak hanya prestasi-prestasi saja yang dimasukkan ke dalam laporan tersebut, tetapi juga tantangan-tantangan yang ada, komitmen-komitmen yang sudah diambil dan akan ditempuh untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, serta hal-hal yang harus diperbaiki dari tahun tersebut di tahun berikutnya. Laporan Keberlanjutan akan dianggap sebagai greenwashing jika data-data yang tercakup dalam laporan tersebut hanya mencakup pencapaian positif dari suatu perusahaan, tanpa mencantumkan tantangan atau hal-hal negatif yang terjadi pada perusahaan. Sebuah contoh adalah perusahaan migas yang melebih-lebihkan pencapaian pemasangan panel surya pada gedung perkantorannya, tanpa mencantumkan data peningkatan emisi karbon dari kegiatan pengeboran minyak mereka.
- Visualisasi yang menyesatkan
Jika Laporan Keberlanjutan didominasi oleh gambar hutan, daun, atau air bersih meskipun perusahaan tersebut memiliki track record yang cukup buruk di bidang lingkungan, kita harus waspada. Bisa jadi perusahaan tersebut menggunakan visual-visual tersebut untuk mempromosikan diri sebagai entitas yang turut serta dalam aksi keberlanjutan dunia, tetapi sesungguhnya aksi nyata mereka malah sebaliknya.
- Klaim tanpa verifikasi pihak ketiga
Sustainability Report yang kredibel biasanya mendapatkan verifikasi dari pihak eksternal perusahaan atau mengikuti standar yang sudah ditetapkan secara internasional, baik standar GRI, SASB, maupun TCFD. Perusahaan tidak bisa membuat klaim independen bahwa mereka sudah berkelanjutan tanpa adanya akreditasi dari lembaga independen yang diakui. Jika mereka melakukan klaim tersebut, bisa jadi Laporan Keberlanjutan yang mereka buat adalah hasil greenwashing.
- Terlalu fokus pada target jangka panjang, abai pada target jangka pendek
Banyak perusahaan yang menjanjikan bahwa mereka akan mencapai target net-zero di tahun 2050, tapi para pelaku greenwashing akan kesulitan membuat roadmap untuk mencapai target net-zero jangka pendek, biasanya sekitar 1–3 tahun ke depan. Pelaku greenwashing juga akan sengaja menghilangkan laporan mengenai progres dan hambatan untuk mencapai target tersebut.
Jika sebuah Laporan Keberlanjutan memuat salah satu atau semua dari lima ciri-ciri tadi, bisa jadi Laporan Keberlanjutan tersebut dibuat dalam rangka greenwashing perusahaan.
Bagaimana Cara Mengatasi Greenwashing dalam Laporan Keberlanjutan?

Sumber: freepik.com
Dalam menyusun Laporan Keberlanjutan yang baik, tentu kita ingin menghindari segala kemungkinan terjadinya greenwashing. Untuk mencegah tindakan tersebut, berikut ini adalah poin-poin penting yang harus diperhatikan dalam menulis Laporan Keberlanjutan perusahaan.
- Menggunakan framework yang diakui secara internasional
Dengan menggunakan kerangka Laporan Keberlanjutan yang telah diakui secara internasional seperti GRI, SASB, atau TCFD, maka data-data yang dimasukkan ke dalam laporan dapat diverifikasi dan dipertanggungjawabkan. GRI berfokus pada dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial, SASB berfokus pada isu materialitas finansial, dan TCFD berfokus pada pelaporan risiko perubahan iklim. Perusahaan juga dapat menggunakan framework lain yang sudah disetujui oleh OJK, tetapi umumnya framework tersebut merupakan adaptasi dari GRI, SASB, TCFD, atau mungkin gabungan dari ketiga kerangka tersebut.
- Terapkan prinsip materialitas yang ketat
Dalam menyusun Laporan Keberlanjutan, sangatlah penting bagi sang penulis untuk fokus terhadap isu yang paling berdampak dari kegiatan usaha perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat, bukan pada isu-isu kecil yang mungkin akan mempercantik citra perusahaan di mata publik. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan survei kepada para stakeholder (investor, konsumen, karyawan) untuk menentukan isu-isu yang paling penting bagi mereka dan perusahaan. Contohnya adalah sebuah perusahaan tambang yang mengalihkan fokus dari menulis tentang kegiatan-kegiatan CSR sepanjang tahun ketika menemukan bahwa isu terbesar yang harus mereka hadapi dan sikapi adalah emisi alat berat dan reklamasi lahan.
- Sajikan data kuantitatif dan matriks yang jelas
Hindari penggunaan kata sifat seperti “ramah lingkungan” atau “sustainable” secara berlebihan dalam Laporan Keberlanjutan. Sebaliknya, perbanyak penggunaan data-data angka yang konkret, seperti emisi CO2 dalam satuan tCO2e (ton setara karbon dioksida). Selain itu, pelaporan juga harus mencakup semua scope dari emisi yang dihasilkan perusahaan, tidak hanya scope 1 (emisi langsung), tetapi juga scope 2 dan scope 3 yang merupakan emisi tak langsung. Penggunaan data-data tahun sebelumnya untuk perbandingan juga diharuskan untuk menyusun Laporan Keberlanjutan yang baik.
- Lakukan verifikasi pihak ketiga
Jika Laporan Keberlanjutan dikerjakan secara in-house, maka proses assurance (verifikasi dari pihak ketiga) sangatlah diperlukan untuk mengesahkan data-data yang ada dalam laporan tersebut. Pihak ketiga akan membantu melakukan proses cross-check data yang ada dalam laporan dengan data-data lapangan, dan jika proses tersebut berhasil akan memberikan stempel verifikasi terhadap laporan yang sudah dibuat. Laporan Keberlanjutan yang mendapat stempel verifikasi akan meningkatkan kepercayaan stakeholder secara signifikan.
- Jangan takut melaporkan kegagalan dan tantangan
Tidak semua yang ada di dunia ini bisa berjalan sesuai dengan idealisme kita. Dalam satu tahun pelaporan, tentu perusahaan akan menghadapi banyak tantangan dan mungkin gagal mengatasi beberapa tantangan tersebut. Laporan Keberlanjutan yang transparan akan memuat semua tantangan dan kegagalan yang dialami oleh perusahaan di tahun tersebut, tidak hanya semua pencapaian dan prestasi yang diraih. Jika, misalnya, produksi limbah perusahaan pada tahun tersebut meningkat, utarakan alasan peningkatan tersebut terjadi dan jabarkan langkah-langkah yang akan ditempuh selama tahun pelaporan berikutnya untuk mengatasi hal itu. Dengan demikian, perusahaan akan sungguh-sungguh berkomitmen dalam memikirkan keberlanjutan kegiatan usahanya.
Wordsmith Group Menjamin Laporan Keberlanjutan Anda Bebas dari Greenwashing

Sumber: unsplash.com
Sebagai agensi yang berpengalaman menyusun Laporan Keberlanjutan untuk berbagai perusahaan, Wordsmith Group sungguh-sungguh memahami bahaya greenwashing untuk sebuah laporan. Untuk mengatasi masalah tersebut dalam penulisan Sustainability Report, Wordsmith Group menerapkan langkah-langkah berikut ini:
- Verifikasi data
Wordsmith Group terus menjalin komunikasi dengan klien dalam masa pembuatan Laporan Keberlanjutan mengenai keabsahan data yang diberikan dengan data yang ada. Jika terdapat data yang tidak sesuai dengan pencapaian ideal perusahaan, misalnya, kami menyarankan perubahan penulisan agar narasi laporan tidak menyesatkan dan akurat menggambarkan situasi.
- Penyelarasan dengan standar
Wordsmith Group memastikan bahwa tiap Laporan Keberlanjutan yang kami tulis memenuhi standar pelaporan, baik GRI, SASB, TCFD, maupun POJK No. 51/POJK.03/2017. Kami melakukan ini dengan menggunakan indeks konten untuk memberikan catatan kepada klien jika terdapat indikator wajib yang tidak dipenuhi atau disembunyikan.
- Edukasi balanced reporting
Kami akan membantu membimbing perusahaan agar lebih transparan dalam pelaporannya, seperti membantu merumuskan narasi untuk target-target yang tidak tercapai. Alih-alih menyembunyikannya, kami menyusun penjelasan mengenai hambatan yang dihadapi dan rencana perbaikan ke depan. Dengan demikian, stakeholder akan tetap percaya pada perusahaan meskipun performa keberlanjutan perusahaan tersebut kurang maksimal.
- Kurasi visual
Sebagai ganti foto-foto pemandangan alam yang berlebih, kami menyarankan perusahaan klien untuk menggunakan foto-foto real dari kondisi di lapangan. Dengan demikian, Laporan Keberlanjutan yang ditulis akan lebih mencerminkan keadaan perusahaan yang sebenarnya.
- Penggunaan bahasa yang presisi
Kami memastikan bahwa Laporan Keberlanjutan yang ditulis oleh Wordsmith Group tidak mengandung diksi-diksi hiperbola yang terkesan lebih marketing ketimbang reporting dan memastikan penggunaan kata-kata yang lebih faktual.
Dengan lima langkah tadi, kami menjamin bahwa Laporan Keberlanjutan yang kami susun adalah laporan yang transparan, akuntabel, dan memenuhi regulasi. Berkat itu pula Wordsmith Group mendapatkan kepercayaan dari berbagai stakeholder perusahaan untuk penulisan Laporan Keberlanjutan.
Jangan khawatir dengan kewajiban penulisan Laporan Keberlanjutan. Hubungi Wordsmith Group sekarang juga dan kami pastikan laporan Anda berkualitas tinggi.



