Persiapan Sustainability Report Menuju Standar ISSB (IFRS S1 & S2): Apa yang Berubah dalam Narasi Perusahaan?

oleh | Sep 11, 2026 | blog

Hadirnya standar International Sustainability Standards Board (ISSB) melalui IFRS S1 dan IFRS S2 menandai perkembangan penting dalam  pelaporan keberlanjutan yang berorientasi pada kebutuhan pasar modal global. Pendekatan pelaporan yang hanya berfokus pada narasi program dan dampak sosial kini perlu dilengkapi dengan pengungkapan yang lebih terstruktur, informasi yang material, serta data dan metrik yang relevan.  Untuk meningkatkan kualitas dan keterbandingan informasi bagi investor, penyusunan Laporan Keberlanjutan perlu merefleksikan transparansi risiko dan peluang keberlanjutan yang  objektif. Wordsmith Group hadir sebagai vendor dan konsultan Laporan Keberlanjutan tepercaya yang siap mendampingi perusahaan melakukan transisi menuju pelaporan yang terintegrasi dan presisi.

Mengenal Singkat IFRS S1 dan IFRS S2

Penyusunan pelaporan keberlanjutan berbasis ISSB berlandaskan pada dua standar utama yang dirancang untuk memberikan informasi yang berguna bagi investor, pemberi pinjaman, dan kreditor dalam menilai risiko dan peluang keberlanjutan perusahaan:  

  • IFRS S1 (Persyaratan Umum): Persyaratan umum untuk mengungkapkan risiko dan peluang terkait keberlanjutan yang secara wajar dapat diperkirakan memengaruhi arus kas, akses terhadap pendanaan, atau biaya modal perusahaan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
  • IFRS S2 (Pengungkapan Terkait Iklim): Berfokus pada pengungkapan risiko dan peluang terkait iklim, termasuk risiko fisik maupun risiko transisi, dampaknya terhadap strategi dan model bisnis, ketahanan strategi melalui analisis skenario, serta emisi Gas Rumah Kaca (Scope 1, Scope 2, hingga Scope 3).

Perubahan Utama dalam Narasi Perusahaan

Penerapan standar pelaporan baru ini mendorong perubahan signifikan dalam pendekatan komunikasi keberlanjutan korporasi. Penulisan naskah keberlanjutan tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada narasi program atau kegiatan hijau perusahaan, tetapi perlu bergeser ke pengungkapan yang lebih terstruktur dan relevan bagi investor. Ini berarti perusahaan perlu menguraikan secara lebih jelas bagaimana risiko dan peluang terkait keberlanjutan, termasuk isu lingkungan dan iklim, dapat memengaruhi strategi, kinerja, posisi keuangan, dan arus kas perusahaan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. 

Pergeseran ini memperkuat konsep Connected Reporting, yaitu keterhubungan antara informasi keberlanjutan dan informasi keuangan perusahaan. IFRS S1 mengharuskan narasi dalam Laporan Keberlanjutan terintegrasi secara logis dan selaras dengan data dalam Laporan Keuangan pada Laporan Tahunan. Dokumen keberlanjutan tidak lagi berdiri sendiri sebagai laporan pelengkap CSR yang terpisah dari realitas bisnis utama, tetapi menjadi bagian dari informasi perusahaan yang saling terhubung. Data dan asumsi yang digunakan dalam pengungkapan keberlanjutan juga perlu konsisten, sejauh memungkinkan, dengan data dan asumsi yang digunakan dalam laporan keuangan terkait. 

Selain itu, standar ini menggeser fokus komunikasi korporat dari sekadar menonjolkan pencapaian menuju pengungkapan risiko dan peluang secara lebih objektif. Perusahaan perlu  mengungkapkan risiko iklim nyata yang mereka hadapi, baik risiko fisik maupun transisi, lengkap dengan skenario mitigasinya. IFRS S2 juga mensyaratkan analisis skenario iklim untuk membantu menilai dan mengungkapkan ketahanan strategi dan model bisnis perusahaan terhadap perubahan dan ketidakpastian terkait iklim. Keterhubungan antara risiko, strategi, dan dampaknya terhadap kondisi finansial inilah yang dapat membantu membangun kredibilitas serta kepercayaan di mata investor global.

Perbedaan Kunci Antara Standar Lama (GRI/OJK) dan Standar ISSB

Transisi dari kerangka pelaporan keberlanjutan konvensional menuju standar ISSB membawa perubahan mendasar pada tiga aspek utama: pendekatan materialitas, target pembaca, dan kedalaman data. Dari segi materialitas, standar sebelumnya seperti GRI atau regulasi OJK, umumnya mengadopsi pendekatan impact materiality yang berfokus pada dampak paling signifikan dari aktivitas perusahaan terhadap ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Sebaliknya, ISSB berfokus pada pendekatan financial materiality, yaitu mengukur bagaimana isu lingkungan dan sosial memengaruhi kondisi keuangan, arus kas, serta nilai bisnis perusahaan secara langsung.

Perbedaan pendekatan tersebut secara otomatis menggeser fokus target pembaca utama dari pelaporan keberlanjutan. Jika pelaporan berbasis GRI dirancang untuk memberikan informasi mengenai dampak perusahaan kepada kelompok pemangku kepentingan yang luas, standar ISSB secara khusus berorientasi pada kebutuhan pengguna laporan keuangan bertujuan umum, termasuk investor, pemberi pinjaman, dan kreditor lainnya, dalam  mengambil keputusan terkait penyediaan sumber daya kepada perusahaan. 

Selain itu, ISSB (IFRS S2) menetapkan standar kedalaman data iklim yang jauh lebih ketat dan rinci dibandingkan pelaporan konvensional. Perusahaan tidak hanya diwajibkan menyajikan emisi operasional langsung, tetapi juga transparansi emisi hingga Scope 3 yang mencakup keseluruhan rantai pasok. ISSB (IFRS S2) juga mewajibkan penyajian analisis skenario iklim yang mendalam untuk membuktikan kesiapan serta ketahanan strategi bisnis perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim di masa depan.

Mengapa Pergeseran Narasi Ini Terjadi?

Mengapa Pergeseran Narasi Ini Terjadi - Wordsmith Group

Sumber: magnific.com

Pentingnya pergeseran menuju financial materiality dalam kerangka ISSB ini juga tercermin dalam pandangan Emmanuel Faber, Chair of the International Sustainability Standards Board (ISSB) sekaligus mantan CEO Danone. Dalam berbagai kesempatan sejak peluncuran IFRS S1 dan S2, Faber menekankan pentingnya mengintegrasikan pelaporan keberlanjutan dengan  pengambilan keputusan bisnis serta kebutuhan informasi pasar modal. 

Menurut Emmanuel Faber, ISSB adalah upaya membangun “bahasa global” yang membantu investor membandingkan risiko iklim dan keberlanjutan secara setara (apple to apple) antara perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Faber menjelaskan bahwa jika sebuah informasi keberlanjutan tidak dikaitkan dengan dampaknya terhadap nilai bisnis dan cashflow, investor institusional tidak bisa menggunakannya sebagai acuan alokasi modal. Pandangan Faber ini memperkuat arah perubahan dalam pelaporan keberlanjutan: narasi SR perusahaan harus bertransisi dari gaya bahasa PR yang kualitatif menuju analisis risiko yang kuantitatif yang relevan secara finansial.

Langkah Persiapan Perusahaan & Strategi Penulisan

Mempersiapkan pelaporan keberlanjutan yang selaras dengan standar ISSB memerlukan kesiapan internal serta perubahan pola komunikasi korporasi:

  • Integrasi Tim Internal: Mengeliminasi kerja silo dengan mendorong kolaborasi erat antara divisi ESG, Tim Keuangan, Risk Management, hingga Corporate Secretary.
  • Penyesuaian Tone of Voice: Mengubah gaya bahasa laporan dari yang berkesan promosional menjadi bahasa analisis bisnis yang objektif, terukur, dan selaras dengan persyaratan pelaporan yang berlaku. 
  • Pentingnya Kualitas Penerjemahan Bilingual: Mengingat ISSB merupakan standar pelaporan global, ketersediaan narasi Bahasa Inggris yang akurat sangat penting. Penggunaan terminologi keuangan dan ESG yang presisi membantu memastikan konsistensi makna serta keterbandingan informasi bagi pembaca dan investor internasional.

Sebagai konsultan Sustainability Report dan spesialis narasi bisnis, Wordsmith Group siap membantu perusahaan Anda menyusun serta menerjemahkan pelaporan ESG bilingual yang tepercaya, akurat, dan selaras dengan kebutuhan pelaporan serta ekspektasi investor global.

FAQ: Pertanyaan Populer seputar Standar ISSB

1. Apakah IFRS S1 dan IFRS S2 menggantikan GRI?

Tidak secara langsung. ISSB tidak serta-merta menghapuskan GRI, melainkan memiliki fokus yang berbeda. GRI berfokus pada  dampak perusahaan terhadap dunia luar (impact materiality), sedangkan ISSB berfokus pada  dampak isu keberlanjutan terhadap nilai keuangan perusahaan (financial materiality). Kedua standar ini dapat diterapkan secara berdampingan (interoperability).

2. Apakah semua perusahaan harus langsung menggunakan standar ISSB?

Penerapannya bergantung pada regulasi di masing-masing negara dan yurisdiksi. Namun, bagi emiten atau perusahaan yang mengincar pendanaan asing dan ingin menarik investor global, mengadopsi kerangka ISSB secara sukarela sejak dini dapat membantu meningkatkan kesiapan pelaporan dan keterbandingan informasi bagi investor. 

3. Apa perbedaan Laporan Keberlanjutan berbasis GRI dengan disclosure berbasis ISSB?

Laporan berbasis GRI menyajikan informasi luas mengenai kontribusi sosial dan lingkungan untuk publik. Sementara pengungkapan berbasis ISSB berfokus pada informasi  yang material  secara finansial untuk membantu investor mengambil keputusan terkait penyediaan modal.

4. Data apa yang perlu dipersiapkan perusahaan sebelum menerapkan IFRS S1 dan S2?

Perusahaan perlu menyiapkan inventarisasi emisi GRK (Scope 1, 2, dan 3), pemetaan risiko dan peluang iklim, informasi mengenai tata kelola dan strategi keberlanjutan tingkat direksi/komisaris, serta data kuantitatif yang menghubungkan risiko iklim dengan pos-pos laporan keuangan.

5. Apakah penerapan ISSB akan mengubah cara perusahaan menyusun narasi ESG?

Ya, sangat mendasar. Narasi ESG tidak lagi cukup jika hanya didominasi oleh deskripsi kegiatan CSR yang bersifat kualitatif, melainkan perlu dilengkapi dengan analisis risiko bisnis yang objektif, terukur, dan terintegrasi dengan strategi finansial perusahaan.

Mengubah Pelaporan Menjadi Nilai Tambah Global

Mengadopsi standar ISSB merupakan sebuah peluang strategis untuk memperkuat kualitas dan keterbandingan informasi keberlanjutan bagi investor hingga ke tingkat global. Laporan keberlanjutan yang dirancang dengan narasi yang presisi akan membantu menunjukkan kesiapan bisnis Anda dalam menghadapi tantangan masa depan.

Penyusunan dan penerjemahan Laporan Keberlanjutan bilingual yang selaras dengan standar internasional dapat Anda konsultasikan secara langsung dengan  tim pakar dari Wordsmith Group melalui kontak resmi kami, baik lewat email maupun WhatsApp.

Other Post

Pentingnya NDA dalam Pekerjaan Sworn Translation

Pentingnya NDA dalam Pekerjaan Sworn Translation

Keamanan data merupakan kewajiban utama dalam sworn translation, terutama untuk dokumen korporasi dan institusi yang bersifat konfidensial . Meskipun penerjemah tersumpah terikat sumpah jabatan, kepastian hukum yang lebih spesifik tetap memerlukan Non-Disclosure...