Bayangkan skenario ini: dua perusahaan dengan kinerja keuangan yang sama kuat mengajukan pendanaan ke investor global. Satu memperoleh akses modal dengan cepat dan biaya lebih kompetitif. Yang lain tertahan, dipertanyakan, bahkan tersingkir sejak tahap awal. Perbedaannya bukan pada laba yang diperoleh dari kedua perusahaan tersebut, melainkan pada kredibilitas Laporan Keberlanjutan yang mereka sampaikan kepada bursa efek dan pasar.
Inilah kenyataan baru yang harus kita terima di masa kini. Investor global tidak lagi menilai niat baik atau komitmen normatif, tetapi menilai struktur, tata kelola, dan kualitas Laporan Keberlanjutan sebagai dasar pengambilan keputusan. ESG telah bergeser dari wacana moral menjadi mandat pasar yang menentukan arah triliunan dolar modal akan disalurkan.
Masalah Utama: Laporan Keberlanjutan Masih Dipahami sebagai Kepatuhan

Selama bertahun-tahun, Laporan Keberlanjutan kerap diposisikan sebagai dokumen kepatuhan, kompilasi aktivitas filantropi, atau sekadar pelengkap Laporan Tahunan. Namun, untuk konteks masa kini, pendekatan ini kini tidak lagi memadai.
Diskusi strategis di berbagai forum, termasuk Indonesia Social Investment Forum (ISIF 2025), menegaskan satu kenyataan yang bersifat pragmatis: Laporan Keberlanjutan adalah instrumen pasar untuk membangun kepercayaan investor dan memperoleh peringkat ESG yang kredibel.
Namun, di sinilah banyak perusahaan terjebak. Mereka menonjolkan program lingkungan dan sosial yang terlihat, tetapi mengabaikan fondasi yang paling diperiksa oleh investor global dalam Laporan Keberlanjutan, yakni Tata Kelola.
Governance Gap dalam Laporan Keberlanjutan

Berbagai asesmen ESG di Indonesia menunjukkan pola yang konsisten. Kesenjangan terbesar antara komitmen dan implementasi ESG tecermin jelas dalam Laporan Keberlanjutan, khususnya pada aspek Tata Kelola (G) atau Tata Kelola. Inilah titik kegagalan yang paling fatal.
Akar dari persoalan tersebut merupakan benturan dua filosofi tata kelola:
- Shareholder primacy: tata kelola yang berfokus pada keuntungan jangka pendek bagi pemegang saham, masih dominan dalam praktik dan narasi laporan.
- Stakeholder governance: standar global yang menuntut perusahaan mengelola nilai jangka panjang bagi pemegang saham, karyawan, masyarakat, lingkungan, dan investor.
Ketika perusahaan masih terjebak pada shareholder primacy, keputusan terkait aspek Lingkungan (E) dan Sosial (S) dalam Laporan Keberlanjutan akan mudah dipinggirkan. Bagi investor institusional global, ini merupakan sinyal risiko tata kelola yang serius, yang dapat menjadi sebuah alasan kuat untuk menahan modal.
Pesannya jelas, tanpa tata kelola yang kredibel, Laporan Keberlanjutan akan dipersepsikan sebagai kosmetik, bukan alat mitigasi risiko.
Mengubah Laporan Keberlanjutan dari Beban Menjadi Leverage

Ketika fondasi tata kelola diperkuat, Laporan Keberlanjutan tak lagi menjadi beban administratif, tetapi dapat menjadi alat strategis yang menghubungkan risiko, peluang, dan kinerja finansial.
Aspek Lingkungan (E): Dari Narasi ke Strategi Iklim
Krisis iklim bukan isu masa depan, melainkan sebuah kenyataan dalam proses operasional hari ini. Risiko fisik dan transisi iklim di Indonesia berdampak langsung pada aset dan rantai pasok.
Karena itu, pasar menuntut Laporan Keberlanjutan berbasis materialitas ganda, yang menjelaskan:
- pengaruh risiko iklim pada strategi dan kinerja bisnis (selaras dengan TCFD/IFRS S2), serta
- dampak aktivitas perusahaan terhadap iklim dan lingkungan (selaras dengan GRI).
Dikelola dengan tepat, strategi iklim yang tecermin dalam Laporan Keberlanjutan justru membuka peluang efisiensi energi, penurunan biaya operasional, dan peningkatan margin.
Aspek Sosial (S): Jalur Menuju Biaya Modal yang Lebih Rendah
Aspek Sosial kini menjadi gerbang menuju pendanaan. Pertumbuhan social financing dan sustainable investment membuat kinerja sosial yang terdokumentasi dengan baik dalam Laporan Keberlanjutan menjadi pertimbangan nyata pasar modal.
Hubungan perusahaan dan masyarakat bukan lagi isu reputasi semata, melainkan telah menjadi variabel finansial yang krusial bagi para stakeholder.
Peran Wordsmith Group dalam Memperkuat Laporan Keberlanjutan
Di titik ini, banyak perusahaan menyadari satu tantangan krusial: Laporan Keberlanjutan mereka belum berbicara dengan bahasa pasar modal global.
Wordsmith Group memosisikan Laporan Keberlanjutan sebagai dokumen komunikasi strategis, bukan sekadar kewajiban pelaporan. Investor tidak hanya membaca angka, akan tetapi membaca koherensi antara tata kelola, strategi, dan narasi.
Pendekatan kami meliputi:
- Memperkuat laporan keberlanjutan dari sisi Tata Kelola, dengan membantu perusahaan mengartikulasikan tata kelola berbasis stakeholder governance yang kredibel.
- Mengoptimalkan aspek E dan S dalam Laporan Keberlanjutan, melalui pelaporan berbasis materialitas ganda yang mengaitkan risiko iklim dan sosial dengan kinerja finansial.
- Membangun kepercayaan pasar, melalui narasi Laporan Keberlanjutan yang konsisten, akurat, dan selaras dengan ekspektasi investor global.
Pertanyaan Saat Ini
Pertanyaannya sekarang bukan lagi Apakah perusahaan Anda memerlukan ESG? Pertanyaannya: Apakah Laporan Keberlanjutan Anda sudah cukup strategis untuk dipercaya pasar dan dipertimbangkan investor?
Jika ESG adalah mandat pasar, maka Laporan Keberlanjutan adalah bahasa utama perusahaan dalam berkomunikasi dengan modal global.
Wordsmith Group siap berdiskusi untuk memastikan Laporan Keberlanjutan Anda jelas, kredibel, dan berdampak. Hubungi kami lewat email atau WhatsApp hari ini!



