Masa Depan dalam Dunia Metaverse dan Pentingnya Penerjemahan Bahasa

oleh | Mar 22, 2022 | Feature

Istilah metaverse diperkenalkan pertama kali oleh Neal Stephenson dalam novelnya yang berjudul Snow Crash pada tahun 1992. Metaverse dapat diartikan sebagai dunia virtual 3D dan dihuni oleh orang sungguhan (avatar).

Tiga miliar orang di dunia termasuk Anda, pasti pernah menggunakan platform media sosial Facebook. Dalam perkembangannya, Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook menggunakan istilah metaverse untuk mengakomodasi ide-ide futuristik. Metaverse menjadi harapan baru dalam dunia internet untuk memungkinkan kita semua dapat berkumpul pada waktu yang bersamaan.

Metaverse sebagai dunia digital untuk berinteraksi satu sama lain secara nyata. Sumber: kompas.com

Zuckerberg kemudian mengubah nama perusahaannya menjadi Meta Platforms Inc. atau disingkat Meta. Dalam pengertiannya, metaverse adalah sarana virtual tempat berkumpulnya orang-orang untuk bertemu, bermain, dan bahkan bekerja yang didukung oleh perangkat headset, kacamata augmented reality, dan aplikasi smartphone.

Metaverse dengan Kecerdasan Buatan

Bagi Mark Zuckerberg, metaverse tidak bisa terwujud dengan cepat. Ia pun memulainya dengan mengubah Facebook dari situs dan aplikasi membosankan menjadi dunia 3D yang lebih hidup. Di sini orang-orang berkumpul di dunia virtual yang bisa mereka ciptakan sesuka hati.

Untuk membuat visinya terwujud, Meta mengembangkan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan sebagai teknologi pendukungnya. “Pengalaman Anda di metaverse akan melampaui apa yang bisa terjadi hari ini,” ucap Zuckerberg dalam acara Meta yang menampilkan sistem AI untuk mendukung Facebook versi 2.0.

“Ini adalah versi internet yang imersif (peralihan dunia nyata ke dunia virtual). Tak hanya melihat di layar, Anda akan benar-benar seperti berada di dalamnya atau hadir bersama orang lain. Butuh kemajuan di berbagai bidang untuk mewujudkannya, mulai dari perangkat keras yang baru hingga perangkat lunak untuk membangun dan menjelajahi dunia. Dan kunci untuk membuka hal tersebut adalah kemajuan dalam AI.”

Zuckerberg mengganti nama Facebook menjadi Meta. Sumber: CNN Indonesia

Tantangan utama dalam membangun metaverse adalah membuat perpindahan dari dunia fisik ke dunia virtual sehalus mungkin. Di masa depan, penghuni Meta akan menggunakan kacamata AR dan VR untuk menavigasi dunia virtual. Teknologi kecerdasan buatan juga dibutuhkan untuk berinteraksi satu sama lain.

Yang terpenting adalah saat asisten AI mampu melihat dan mengetahui segala hal. Meta mengumumkan Project CAIRoke, yaitu sistem yang dirancang untuk mengembangkan obrolan pintar di metaverse. Zuckerberg mendemonstrasikan cara menggerakkan robot “Builder Bot” untuk membuat fitur baru dengan menginstruksikan CAIRoke menggunakan perintah suara.

“Mari kita tambahkan beberapa awan,” ucapnya. Langit di metaverse kemudian dipenuhi awan. “Mari kita tambahkan sebuah pulau di sana.” Sebuah pulau pun akan muncul dari kejauhan.

Selamat Datang di Dunia Baru

Metaverse tidak hanya membutuhkan kecerdasan buatan (AI). Metaverse juga bergantung pada mesin lainnya, yaitu sistem AI yang dapat menciptakan semua jenis objek di dunia digital. Ini merupakan simulasi untuk menghasilkan prediksi dan respons yang lebih baik terhadap permintaan pengguna.

Sistem AI di metaverse mempelajari berbagai sumber data di dunia nyata dan virtual. Meta telah mengkompilasi semua jenis data, seperti gambar, audio, video, dan teks. Untuk informasi yang dipelajari dari data yang tak berlabel akan dilakukan secara mandiri.

Piotr Dollar, direktur riset di Meta menjelaskan teknik untuk menunjukkan gambar, menutupi piksel, dan menantang model untuk mengisi bagian yang tidak jelas. Sebagai contoh, jika sebuah model dihadapkan dengan gambar ban mobil dan sebuah roda yang tertutup sebagian, model tersebut mampu menyelesaikan bentuk lingkaran ban. Selanjutnya, model itu akan mempelajari struktur umum objek dengan sendirinya.

Wakil Presiden Meta dan kepala ilmuwan AI Yann LeCun telah bertahun-tahun mendukung perubahan sistem tersebut. “Kita bisa melihat dengan jelas bahwa manusia dan hewan dapat mempelajari kemampuan baru, atau memperoleh pengetahuan baru yang jauh lebih cepat daripada sistem buatan mana pun,” ucapnya.

Meskipun Facebook telah berubah nama menjadi Meta. Misinya masih sama, yaitu membuat dunia lebih terhubung. Tujuan dari metaverse pun tidak hanya berinteraksi dengan kecerdasan buatan yang futuristik. Komunikasi antarmanusia tetaplah menjadi kunci utama.

Berbicara Bahasa Anda dengan Terjemahan

Zuckerberg juga mengumumkan dua rancangan baru. Yang pertama dijuluki sebagai No Language Left Behind, yaitu sistem terjemahan mesin canggih yang akan mempelajari setiap bahasa. Bahkan jika bahasa itu langka dan sumber bahannya terbatas.

Desain yang kedua adalah penerjemah bahasa universal, yang memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi dalam metaverse dalam bahasa berbeda dengan bantuan terjemahan langsung dan simultan. “Kami akan terus membangun teknologi yang memungkinkan lebih banyak orang mengakses internet dalam bahasa mereka. Kami berharap dapat memperluas konten dan pengalaman di metaverse juga,” ucapnya.

“Hal ini akan menjadi sangat penting ketika orang mulai berteleportasi melintasi dunia maya dan mengalami pengalaman dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Sekarang kita memiliki kesempatan untuk meningkatkan internet dan menetapkan standar baru di mana kita semua dapat berkomunikasi satu sama lain apa pun bahasanya atau dari mana pun kita berasal. Dan jika kita melakukannya dengan benar, ini hanyalah salah satu contoh bagaimana AI dapat membantu menyatukan manusia dalam skala global.”

Language and The Future of Translation – Webinar Wordsmith Group

Wordsmith Group baru saja mengadakan webinar dengan topik “Language and The Future of Translation” pada Senin, 14 Maret 2022. Dalam webinar ini membahas tentang potensi besar yang dimiliki metaverse serta tantangannya. Salah satu pembicara, yaitu Andes Rizky selaku Founder Shinta VR mengatakan bahwa metaverse bukan lagi sebuah virtual, melainkan bisa digabung ke dunia nyata atau offline. Karena, di metaverse semua orang bisa bermain game atau menonton konser secara bersama-sama. Sebuah brand bahkan juga bisa melakukan promosi di metaverse contohnya Sandbox atau film Walking Dead.

Stephen Ng dan Andes Rizky menjelaskan secara rinci potensi, tantangan, serta solusi dari dunia Metaverse. Tayangan lengkapnya:

Kami pun percaya bahwa teknologi dan bahasa secara intrinsik terhubung dan akan menarik untuk melihat apa dampak dari teknologi ini terhadap industri penerjemahan. Multilingualisme pada metaverse adalah topik yang terus kami pantau. Kenyataannya, penerjemahan di metaverse adalah penerjemahan yang dinamis dan berbeda dengan apa pun yang pernah kita lihat di masa lalu. Saat teknologi terus berkembang, begitu pula jasa berbasis bahasa, dan kami dari Wordsmith Group menyambut dengan penuh semangat kesempatan untuk menjadi bagian dari masa depan yang penuh dengan peluang ini. Hubungi kami untuk apa pun kebutuhan Anda terkait layanan bahasa.

Sumber artikel:

CNBC Metaverse

Metaverse Language

Other Post

Don't Leave Just Yet!

Enter your email below to receive the latest news and essential information from Wordsmith Group.

You have Successfully Subscribed!