Mengubah Risiko Fatalitas Pilar Sosial (S) dalam ESG Menjadi Keunggulan Strategis

oleh | Jan 6, 2026 | blog

Coba bayangkan sebuah operasional bisnis yang terhenti bukan karena masalah keuangan atau kegagalan teknologi, melainkan karena konflik sosial yang luput terbaca sejak awal. Akses ke lokasi ditutup, aset dirusak, reputasi jatuh dalam hitungan hari. Semua itu berawal dari satu aspek yang kerap dianggap sekunder dalam praktik ESG: pilar Sosial.

Situasi semacam ini bukan lagi pengecualian, melainkan realitas yang makin sering dihadapi perusahaan. Di tengah fokus besar pada isu lingkungan dan regulasi iklim, dimensi Sosial dalam ESG kerap dipandang paling rumit, sulit diukur, dan akhirnya mudah diabaikan. Padahal, sebagaimana mengemuka dalam Indonesia Social Investment Forum (ISIF) 2025, kegagalan mengelola risiko sosial bukan sekadar persoalan reputasi, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan bisnis.

Risiko Sosial adalah Inti Risiko ESG

Risiko Sosial adalah Inti Risiko ESG - Wordsmith Group

Kesalahan paling umum dalam implementasi ESG adalah memosisikan pilar Sosial sebagai sekadar urusan hubungan masyarakat. Namun, dalam kenyataannya, isu sosial yang materialyang mencakup konflik komunitas, hak pekerja, inklusi, dan ketimpangansering kali menjadi pemicu langsung gangguan operasional dan hilangnya nilai perusahaan.

Ery Seda dari Universitas Indonesia menekankan bahwa risiko sosial pada dasarnya berakar pada relasi yang timpang antara negara, pasar, dan masyarakat. Ketika hubungan ini tidak dibangun secara inklusif dan transparan, konflik hampir tak terelakkan. Dalam kerangka ESG, pengelolaan aspek Sosial pada akhirnya bukan sekadar soal kepatuhan terhadap aturan, melainkan soal membangun dan menjaga kepercayaan dengan masyarakat dan stakeholder terkait.

Namun, kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dengan niat baik atau intuisi. Kepercayaan tersebut menuntut pendekatan analitis yang setara dengan pengelolaan risiko finansial dan lingkungan dalam ESG.

Dari Intuisi ke Analisis Risiko Sosial

Dari Intuisi ke Analisis Risiko Sosial - Wordsmith Group

Wahyu Aris Darmono dari Social Investment Indonesia menegaskan bahwa pengelolaan risiko sosial dalam kerangka ESG tidak bisa dilakukan secara intuitif atau simbolik semata, melainkan harus bertumpu pada analisis yang disiplin dan berbasis data. Melalui pendekatan Social Return on Investment (SROI) serta manajemen risiko sosial, perusahaan didorong untuk mengenali isu-isu yang benar-benar material, bukan sekadar yang paling mudah ditampilkan dalam laporan.

Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memahami konsekuensi nyata apabila isu sosial diabaikan dalam strategi ESG, merancang intervensi sosial yang memiliki rasionalitas investasi yang jelas, serta memastikan bahwa program sosial terhubung langsung dengan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Pada titik inilah pilar Sosial dalam ESG tidak lagi diposisikan sebagai pusat biaya, melainkan sebagai instrumen mitigasi risiko sekaligus sumber penciptaan nilai.

Materialitas Ganda dan Standar Global

Materialitas Ganda dan Standar Global - Wordsmith Group

Tekanan terhadap pengelolaan pilar Sosial dalam ESG kini tidak hanya datang dari dinamika di lapangan, tetapi juga makin kuat dari arah regulasi dan standar global. Dewi Suyenti Tio, Country Manager Indonesia untuk Global Reporting Initiative (GRI), menjelaskan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah bersiap mengadopsi standar ISSB S1 dan S2 yang akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027.

Standar ini memperkenalkan penerapan materialitas ganda, yang menuntut perusahaan untuk menilai isu sosial dari dua arah sekaligus. Pertama, pengaruh risiko dan dinamika sosial terhadap nilai serta kinerja perusahaan (outside-in); dan kedua, dampak langsung aktivitas bisnis perusahaan terhadap masyarakat dan para pemangku kepentingan (inside-out).

Peraturan tersebut memiliki implikasi yang jelas, yaitu perusahaan tidak lagi memiliki keleluasaan untuk hanya melaporkan isu-isu sosial yang relatif aman atau mudah dikendalikan. Dalam kerangka ESG, yang wajib diungkap adalah isu yang benar-benar material, meskipun bagi perusahaan akan menambah tantangan dalam segi kompleksitas, menyangkut informasi sensitif, dan menuntut kesiapan tata kelola yang lebih matang.

Program Sosial yang Akuntabel dan Berdampak

Program Sosial yang Akuntabel dan Berdampak - Wordsmith Group

Setelah isu-isu material berhasil ditentukan, tantangan berikutnya bukan lagi soal apa yang harus dilakukan, melainkan bagaimana memastikan program sosial benar-benar merespons risiko ESG yang ada. Tanpa kerangka yang jelas, inisiatif sosial mudah terjebak menjadi simbol komitmen, alih-alih instrumen pengelolaan risiko.

Dalam konteks inilah Prima Interpares dari Rikolto International menekankan pentingnya sistem Monitoring, Evaluation, Accountability, and Learning (MELA) sebagai fondasi pengelolaan ESG berbasis data. Tanpa MELA, program sosial berisiko menghabiskan sumber daya tanpa mampu menunjukkan kontribusi nyata terhadap kinerja ESG perusahaan. MELA memastikan bahwa investasi sosial dirancang berdasarkan bukti, memberikan manfaat yang adil dan terukur, serta membuka ruang pembelajaran adaptif untuk menciptakan dampak jangka panjang.

Namun, data saja tidak cukup. Doty Damayanti dari IS2P menyoroti peran krusial jejaring profesional dan komunikasi strategis dalam menerjemahkan kompleksitas isu sosial menjadi keputusan ESG yang dapat dieksekusi. Di sisi lain, Zuraida Murdia Hamdie dari Yayasan Amanah Bangun Negeri mengingatkan bahwa inovasi sosial yang berkelanjutan harus berangkat dari kebutuhan nyata komunitas, melalui pendekatan yang partisipatif dan kontekstual. Pada titik inilah narasi ESG berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan kepentingan masyarakat akar rumput dengan arah dan strategi korporasi.

Pilar Sosial sebagai Pembeda ESG

ISIF 2025 menyampaikan satu pesan yang sangat penting, yakni pilar Sosial bukan elemen pelengkap dalam kerangka ESG. Pilar tersebut justru menjadi faktor penentu ketahanan operasional, stabilitas investasi, dan kredibilitas perusahaan di mata pasar.

Perusahaan yang berani mengidentifikasi risiko sosial secara jujur, mengelolanya dengan pendekatan berbasis data, serta mengomunikasikannya secara terbuka dan kredibel akan membangun keunggulan ESG yang nyata; bukan hanya bagi regulator dan investor, melainkan juga bagi masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem bisnisnya.

Di Mana Peran Wordsmith Group dalam Strategi ESG?

Banyak perusahaan sebenarnya telah memiliki data, program, dan niat baik. Namun, tidak sedikit yang berhenti di sana. Perusahaan-perusahaan tersebut gagal mengubah unsur-unsur yang mereka miliki menjadi narasi ESG yang dipahami dan dipercaya oleh pasar. Kesenjangan ini sering kali bukan terletak pada kurangnya aktivitas, melainkan pada cara cerita ESG disusun dan disampaikan.

Di titik inilah Wordsmith Group berperan sebagai mitra strategis. Kami membantu perusahaan menerjemahkan analisis materialitas sosial dan SROI ke dalam strategi ESG yang saling terhubung, menyusun Laporan Keberlanjutan yang selaras dengan standar GRI, ISSB, serta regulasi OJK, sekaligus merancang komunikasi ESG yang mampu mengelola relasi sosial yang kompleks secara berkelanjutan.

Saatnya Menempatkan Pilar Sosial sebagai Prioritas Strategis ESG

Jika kegagalan mengelola pilar Sosial terbukti mampu menghentikan operasi dan menggerus nilai perusahaan, maka pertanyaannya sebenarnya cukup mendasar: Sudahkah aspek Sosial diperlakukan sebagai risiko strategis dalam kerangka ESG, atau masih diposisikan sebagai aktivitas tambahan?

Ketika ESG dipahami sebagai fondasi ketahanan bisnis ke depan, tata kelola dan narasinya tidak lagi bisa diserahkan pada kebetulan. Di titik inilah dialog menjadi penting. Wordsmith Group siap membuka ruang diskusi untuk Anda. Silakan hubungi kami melalui email atau WhatsApp hari ini!

Other Post

Alasan Pengakuan Masyarakat Adat Menentukan Kredibilitas ESG Anda

Alasan Pengakuan Masyarakat Adat Menentukan Kredibilitas ESG Anda

Bayangkan sebuah perusahaan dengan Laporan Keberlanjutan yang rapi, anggaran sosial yang besar, dan kepatuhan regulasi yang lengkap, tetapi operasionalnya terhenti akibat konflik sosial yang tak terkelola. Pasti akan ada aset terbengkalai, reputasi perusahaan runtuh,...

ESG, Tata Kelola, dan Kredibilitas Dampak Sosial di Indonesia

ESG, Tata Kelola, dan Kredibilitas Dampak Sosial di Indonesia

ESG di Indonesia memasuki fase yang makin menuntut kedewasaan. Di satu sisi, makin banyak perusahaan menyatakan komitmen terhadap keberlanjutan. Di sisi lain, kualitas implementasi, kekuatan tata kelola, serta kredibilitas dampak yang dilaporkan masih menjadi...