Dalam menyusun sustainability report, perusahaan umumnya menggunakan satu dari tiga kerangka kerja (framework) pelaporan yang telah diakui secara internasional. Tiga framework yang paling sering digunakan oleh perusahaan di seluruh dunia sebagai basis sustainability report adalah Global Reporting Initiative (GRI), Sustainability Accounting Standards Board (SASB), dan International Financial Reporting Standards (IFRS), masing-masing dengan perspektif, kelebihan, kekurangan, dan fokus yang berbeda.
GRI banyak digunakan oleh perusahaan di berbagai sektor karena cakupannya relatif umum dan dapat diterapkan pada berbagai bidang usaha. Sustainability report yang dibuat berdasarkan GRI biasanya menyoroti dampak kegiatan usaha perusahaan terhadap tiga pilar ESG, yaitu environment, social, dan governance. Sementara itu, SASB memiliki fokus pada materialitas finansial perusahaan.
Adapun IFRS memiliki prinsip yang sejalan dengan SASB, yaitu menilai kinerja keberlanjutan perusahaan dari perspektif materialitas finansial. Kesamaan ini tidak terlepas dari fakta bahwa SASB merupakan bagian dari IFRS Foundation sejak tahun 2022. Meski demikian, IFRS tetap dianggap sebagai framework yang independen dari SASB. Hal ini diperkuat dengan integrasi framework IFRS dengan framework sustainability report dari Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) pada tahun 2024, yang memberikan fokus tambahan pada bagaimana perusahaan memitigasi risiko iklim dalam kegiatan usahanya.
Prinsip Framework Sustainability Report TCFD

Sumber: freepik.com
Meskipun tidak termasuk dalam tiga besar framework yang umum digunakan untuk pembuatan sustainability report, TCFD tetap memiliki peran penting dalam menilai komitmen keberlanjutan sebuah perusahaan, khususnya dari perspektif kesiapan perusahaan dalam menghadapi risiko perubahan iklim. Framework TCFD memiliki empat prinsip utama:
- Tata kelola (governance)
Framework TCFD menekankan bahwa isu iklim harus menjadi tanggung jawab dewan direksi dan komisaris, bukan sekadar tugas departemen CSR. Ketika risiko iklim telah menjadi bagian dari komitmen dewan direksi, mitigasi terhadap risiko tersebut akan terintegrasi dalam key performance indicator (KPI) perusahaan. Selain itu, tata kelola perusahaan yang berorientasi pada mitigasi risiko iklim akan memudahkan perusahaan mendapatkan insentif untuk investasi teknologi rendah karbon.
- Strategi (strategy)
Bagian ini merupakan inti dari framework TCFD, yang mengarahkan perusahaan untuk menjelaskan dampak nyata risiko iklim terhadap model bisnis mereka. TCFD mendorong perusahaan untuk menguji strategi bisnis terhadap skenario transisi, seperti penerapan pajak karbon yang tinggi serta kebutuhan akan diversifikasi produk yang lebih berkelanjutan.
- Manajemen risiko (risk management)
TCFD mendorong perusahaan untuk mengintegrasikan risiko iklim ke dalam kerangka manajemen risiko perusahaan yang sudah ada, termasuk melaksanakan identifikasi risiko transisi, seperti perubahan perilaku konsumen atau risiko reputasi. Dengan memahami risiko sejak dini, perusahaan dapat melaksanakan langkah mitigasi preventif, seperti meningkatkan efisiensi energi di pabrik.
- Metrik dan target (metrics and targets)
Metrik dan target menjadi alat ukur keberhasilan mitigasi. TCFD mendorong perusahaan untuk mengungkapkan emisi gas rumah kaca baik dari Scope 1, 2, dan 3 (jika relevan). Dengan adanya target yang dipublikasikan secara terbuka, perusahaan terdorong untuk mencapai dekarbonisasi yang nyata, dengan indikator yang terukur sebagai bukti kepada para pemangku kepentingan bahwa komitmen perusahaan terhadap mitigasi iklim dilakukan secara serius, bukan sekadar greenwashing.
Bagaimana Laporan Keberlanjutan Berbasis IFRS Dapat Mempersiapkan Perusahaan untuk Mitigasi Iklim

Sumber: freepik.com
Kembali ke IFRS, framework ini dibagi menjadi dua bagian utama. IFRS S1 mencakup pengungkapan umum, yaitu informasi mendasar mengenai perusahaan. Sedangkan IFRS S2 merupakan bagian khusus yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip framework TCFD, dengan fokus pada kesiapan perusahaan dalam menghadapi risiko-risiko terkait iklim.
Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip TCFD, berikut cara sustainability report berbasis IFRS dapat mempersiapkan perusahaan menghadapi risiko terkait iklim.
- Identifikasi risiko dan peluang
IFRS S2 mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan setiap risiko fisik (seperti bencana alam) dan risiko transisi (seperti perubahan regulasi atau pajak karbon) yang berkaitan dengan iklim. Dengan memetakan risiko tersebut, perusahaan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan dapat mengidentifikasi aset yang rentan dan beralih ke alternatif rendah karbon sebelum aset tersebut menjadi tidak bernilai.
- Integrasi strategi dengan analisis skenario
IFRS S2 menekankan penggunaan analisis skenario iklim dalam perencanaan dan penulisan sustainability report. Perusahaan harus menguji ketahanan strategi bisnis terhadap berbagai kemungkinan kondisi masa depan, seperti skenario kenaikan suhu 1,5°C atau lebih dari 2°C. Pendekatan ini akan membantu perusahaan menyiapkan rencana darurat dan strategi mitigasi berbasis data dan bukan sekadar asumsi.
- Transparansi emisi gas rumah kaca
IFRS mewajibkan perusahaan untuk melaporkan emisi secara komprehensif, baik itu Scope 1 (emisi langsung), Scope 2 (emisi tidak langsung), dan Scope 3 (emisi dari seluruh rantai pasok). Dengan transparansi ini, perusahaan dapat menentukan titik emisi terbesar dalam rantai pasok dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk menurunkannya.
- Akuntabilitas melalui target berbasis sains
Framework IFRS menuntut perusahaan untuk mengungkapkan target iklim, strategi pencapaiannya, dan bentuk pertanggungjawaban atas implementasinya. Hal ini membantu mencegah praktik greenwashing karena setiap klaim “Net Zero” harus didukung oleh rencana transisi yang konkret dan metrik data yang dapat diverifikasi.
- Akses ke modal hijau
Saat ini investor menggunakan standar IFRS sebagai bahasa universal untuk menilai keberlanjutan sebuah perusahaan. Perusahaan yang patuh pada framework ini cenderung lebih mudah mendapatkan pembiayaan hijau dengan bunga yang lebih kompetitif, yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendanai program mitigasi iklim.
Perbandingan Framework TCFD dan IFRS S2
Meskipun IFRS, terutama bagian IFRS S2, banyak mengadopsi prinsip-prinsip dasar dari TCFD, keduanya tetap berbeda. Secara sederhana, TCFD dapat dilihat sebagai cetak biru, sementara IFRS S2 merupakan produk jadi dari cetak biru tersebut– sebuah evolusi dari TCFD yang telah disempurnakan dan diadopsi secara resmi oleh IFRS pada bulan Januari 2024.
Berikut beberapa perbedaan mendasar antara TCFD dan IFRS S2:
- Status dan otoritas
TCFD bersifat sukarela karena merupakan rekomendasi dari Financial Stability Board untuk membantu investor. Sementara itu, IFRS S2 dirancang sebagai standar global yang penerapannya dapat menjadi wajib, tergantung pada regulasi di masing-masing negara.
- Tingkat kedetailan
TCFD lebih bersifat berbasis prinsip–memberikan arahan mengenai apa yang harus dilaporkan tanpa mengatur secara rinci cara menghitung hal-hal yang harus dilaporkan secara spesifik. IFRS S2, sebaliknya, menekankan pada detail, dengan instruksi spesifik mengenai metode pengukuran, bahkan mewajibkan pengungkapan emisi gas rumah kaca Scope 3 (rantai pasok) yang lebih ketat dibandingkan TCFD.
- Koneksi dengan laporan keuangan
TCFD berfokus pada pengungkapan risiko iklim agar investor dapat memahami posisi perusahaan, sedangkan IFRS S2 dirancang untuk terintegrasi penuh dengan laporan keuangan, sehingga angka-angka keberlanjutan memiliki bobot hukum dan akurasi yang setara dengan laporan keuangan utama.
- Cakupan sektor industri
TCFD memberikan panduan umum yang dapat diterapkan di berbagai sektor. Sementara itu, IFRS S2 menyertakan panduan spesifik industri yang diadopsi dari standar SASB. Sebagai contoh, untuk perusahaan ytambang, IFRS S2 menyediakan metrik khusus yang relevan dengan sektor tersebut.
Wordsmith Group Siap Mewujudkan Laporan Tahunan Anda
Meskipun tidak sepopuler framework GRI, IFRS tetap menjadi elemen penting dalam pembuatan sustainability report. Sebagai evolusi dari TCFD yang berfokus pada mitigasi risiko iklim, IFRS menyempurnakan apa yang kurang dari framework TCFD dan menjadikannya lebih komprehensif. Dengan standarisasi IFRS sebagai salah satu pilihan framework yang dapat dipakai untuk penulisan sustainability report, banyak perusahaan menggunakan framework ini sebagai pedoman penulisan sustainability report mereka, terutama untuk perspektif yang berkaitan dengan mitigasi risiko iklim, seiring dengan berkembangnya awareness terhadap isu tersebut.
Jika perusahaan Anda membutuhkan sustainability report yang berkualitas tinggi, Wordsmith Group siap membantu Anda. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dan rekam jejak yang telah diakui oleh berbagai perusahaan lintas industri, Wordsmith Group memastikan sustainability report perusahaan Anda akan diproduksi dengan standar terbaik. Hubungi Wordsmith Group melalui email atau WhatsApp untuk memulai kerjasama!



