Tantangan dalam Penerjemahan Keigo

oleh | Feb 13, 2026 | blog

Bahasa Jepang merupakan bahasa dengan struktur yang cukup kompleks. Ia memiliki tatanan bahasa tersendiri yang disebut keigo, yang menunjukkan tingkat kesopanan kata-kata yang dipilih dalam pembicaraan, tergantung lawan bicara si pembicara. Penggunaan keigo mengubah secara total kata kerja yang digunakan dalam kalimat, tergantung orang yang sedang diajak berdialog oleh pembicara: apakah lebih tua, lebih dihormati, atau sekadar teman bercengkrama?

Tatanan keigo dibagi menjadi tiga jenis: sonkeigo, kenjougo, dan teineigo. Ketiga jenis keigo tersebut dibedakan menurut jenis kata-kata yang digunakan dalam dialog sehari-hari serta menurut lawan bicara pembicara pada dialog tersebut.

Teineigo merupakan bahasa sopan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti percakapan antarteman, penyiar berita dalam menyampaikan berita, atau pengumuman-pengumuman resmi. Tata bahasa ini tidak memandang status orang yang menjadi lawan bicara maupun status sang pembicara, dan memiliki sifat saling menghormati dalam kedudukan yang sejajar. Teineigo, yang umumnya menggunakan akhiran -desu dan -masu dalam percakapan, merupakan keigo yang paling mudah dan mendasar yang dipelajari.

Sementara itu, sonkeigo mengacu pada tata bahasa yang meninggikan tindakan atau kondisi yang berkaitan dengan lawan bicara. Keigo biasa dipakai dalam percakapan yang menggambarkan kegiatan orang yang lebih tua atau dihormati, dan umumnya menggunakan bentuk o/go + -ni naru atau -reru dan -rareru untuk kata-kata pasif. Sonkeigo mengutamakan penggunaan prefiks atau sufiks dalam dialog dan terdapat perubahan kosakata untuk kata-kata kerja, seperti taberu menjadi meshiagaru (sama-sama berarti makan).

Yang terakhir adalah kenjougo, yang merupakan kebalikan dari sonkeigo. Jika sonkeigo meninggikan lawan bicara, kenjougo malah merendahkan tindakan atau kondisi pembicara dalam rangka menghormati lawan bicara, sehingga biasa digunakan dalam percakapan langsung dengan orang yang lebih tua atau dihormati. Sama seperti sonkeigo, kenjougo juga mengubah kata-kata kerja, seperti dari taberu menjadi itadaku (sama-sama berarti makan), dan mengutamakan penggunaan prefiks dan sufiks (bentuk o/go + suru atau o/go + itasu) dalam kalimat-kalimatnya.

Ketiga unsur keigo ini menjadikan bahasa Jepang sangat unik untuk dipelajari dan cukup menantang untuk diterjemahkan, terutama pada novel atau media berbasis tulisan yang lain. Dialog-dialog yang terkandung dalam novel berbahasa Jepang terkenal sarat akan filosofi dan kebudayaan lokal yang akan hilang jika diterjemahkan secara harfiah, apalagi mengingat bahasa Inggris ataupun Indonesia belum tentu memiliki padanan yang tepat untuk menerjemahkan keigo.

Tantangan dalam Proses Penerjemahan Keigo

Tantangan dalam Proses Penerjemahan Keigo - Wordsmith Group

Sumber: unsplash.com

Jadi, apa kira-kira tantangan penerjemah dalam menerjemahkan keigo bahasa Jepang?

Yang pertama adalah menentukan siapa menghormati siapa dalam sebuah percakapan. Dalam bahasa Jepang, kata kerja akan berubah total tergantung pada posisi pembicara terhadap lawan pembicara dan orang yang dibicarakan dalam sebuah dialog. Jika penerjemah tidak berhati-hati dengan konteks ini dan langsung menerjemahkan secara sembarangan, maka seluruh nuansa yang terbangun dalam percakapan tersebut akan hancur. Ini sangat rentan terjadi jika kita menerjemahkan ke bahasa Indonesia, yang hanya memiliki kata “beliau” atau penambahan “Bapak/Ibu” saja, yang belum cukup kuat untuk menggambarkan kontras yang digambarkan dalam dialog tersebut.

Oleh karena itu sangatlah penting bagi penerjemah untuk mengetahui posisi pembicara dan lawannya dalam dialog tersebut. Jika pembicara meninggikan lawannya, gunakan terjemahan untuk sonkeigo. Namun, jika pembicara merendah, gunakan kenjougo.

Yang kedua, keigo dalam bahasa Jepang cenderung menghilangkan subjek (saya/Anda) karena bentuk kata kerja sudah menjelaskan siapa yang melakukan aksi tersebut, seperti meshiagarimasu atau itadakimasu (dua-duanya berarti saya makan). Dalam penerjemahan ke bahasa yang mengedepankan subjek seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, penggunaan kata “saya” atau “Anda” secara berlebihan dapat membuat teks atau narasi terasa kaku dan repetitif, sehingga penerjemah harus pintar-pintar menyiasati perbedaan ini agar terjemahan dapat terlihat dan terdengar lebih natural.

Tantangan ketiga adalah diperlukannya proses transkreasi dalam menerjemahkan naskah dialog dalam bahasa Jepang. Percakapan sehari-hari—tanpa sonkeigo atau kenjougo sekalipun—akan tetap menggunakan teineigo, sehingga pendekatannya harus dilakukan secara saksama. Tanpa proses transkreasi, dialog antara pelayan restoran yang menyapa pelanggan akan terdengar aneh dan terkesan berlebihan, seperti “Hamba persilakan Tuan mencicipi hidangan jamuan kami”.

Selain itu, ada nuansa uchi-soto dalam bahasa Jepang yang membuat penerjemah harus memutar otak. Budaya orang Jepang mengharuskan mereka merendahkan anggota keluarga mereka atau atasan mereka dalam pembicaraan dengan orang lain di luar lingkup kehidupan mereka (soto). Misalnya, sekretaris kantor akan menggunakan kenjougo ketika membicarakan atasannya dengan klien. Jika diterjemahkan secara harfiah, maka pembaca akan bingung karena sekretaris ini tiba-tiba terdengar tidak sopan mengenai atasannya sendiri ketika bercakap dengan klien penting. Di saat seperti inilah penerjemah harus mempertimbangkan konteks bahwa ucapan sekretaris tersebut sudah sesuai dengan budaya di Jepang.

Tantangan yang terakhir adalah potensi hilangnya power dynamics yang diciptakan oleh narasi asli ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Dalam media bahasa Jepang, baik itu manga, novel, naskah film, maupun anime, perubahan cara bicara dari santai ke penggunaan keigo melambangkan perubahan emosi seseorang; misalnya sedang menyindir, menjaga jarak, atau menunjukkan ketakutan. Perubahan emosi inilah yang sulit ditangkap oleh bahasa Inggris atau Indonesia ketika diterjemahkan.

Solusi Mengatasi Tantangan Penerjemahan Keigo

Solusi Mengatasi Tantangan Penerjemahan Keigo - Wordsmith Group

Sumber: freepik.com

Kita sudah membahas tantangan yang dihadapi penerjemah ketika menerjemahkan keigo bahasa Jepang ke bahasa lain seperti bahasa Inggris atau Indonesia. Nah, apa solusi untuk mengatasi semua tantangan tadi?

Pertama, penerjemah dapat menggunakan teknik diksi adaptif dalam penerjemahan teks bahasa Jepang, terutama dengan pendekatan “sapaan dan partikel”. Karena bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata kerja untuk menghormati orang lain, maka kita harus mengakalinya dengan mengubah aspek lain agar teks tetap terjaga nuansa kesopanannya. Ini dicapai dengan menggunakan sapaan yang spesifik (Bapak, Ibu, Saudara, Kakak, Adik) atau menggunakan partikel penutup yang melembutkan kalimat. Contohnya, kita tidak menerjemahkan tabemasu menjadi “makanlah”, tapi menjadi “silakan dinikmati” agar nuansanya tetap terjaga.

Kedua, penerjemah harus memahami konsep uchi-soto masyarakat Jepang secara mendalam agar dapat lebih mengerti konteks yang sedang dibicarakan dalam teks aslinya. Jika penerjemah memahami konsep uchi-soto, maka ia dapat mengetahui saat harus merendahkan atau meninggikan subjek berdasarkan lawan bicaranya. Solusi dari tantangan uchi-soto ini adalah dengan mengidentifikasi peran tiap karakter dalam teks yang sedang diterjemahkan. Kembali menggunakan contoh sekretaris yang tadi: Jika sekretaris sedang membicarakan atasannya kepada klien, gunakanlah bahasa profesional yang netral namun formal dalam bahasa sasaran, tanpa perlu mengikuti struktur rendah diri Jepang yang lumayan kompleks. Fokus pada profesionalisme situasi, bukan kerendahan diri secara harfiah.

Ketiga, penerjemah dapat menggunakan teknik kompensasi dalam memperbaiki nuansa sopan yang mungkin akan hilang dalam proses penerjemahan. Contohnya, jika kata kerja irassharu (datang) diterjemahkan secara harfiah, maka akan menjadi “datang”, yang terkesan tidak terlalu sopan jika dibandingkan dengan konteks teks yang sedang diterjemahkan. Oleh karena itu, nuansa sopan dapat dikembalikan dengan menggunakan istilah “berkenan hadir” untuk kompensasi kesopanan yang hilang dari kata “irassharu” yang diterjemahkan.

Ada rumus spesifik untuk teknik ini: 1 kata keigo = 1 kata kerja standar + 1 kata kerja sopan.

Keempat, penerjemah dapat merujuk pada struktur bahasa daerah untuk dapat memahami konteks beberapa teks tertentu yang kental akan budaya lokal. Bahasa Jawa dan bahasa Sunda memiliki struktur yang mirip dengan keigo Jepang, contohnya krama inggil dalam bahasa Jawa. Dengan mengambil inspirasi dari cara bahasa Jawa dan Sunda memosisikan pembicara dan lawan bicara, penerjemah dapat memilih diksi yang lebih elegan dari kosakata bahasa Indonesia untuk menggambarkan situasi yang sedang berlangsung, tanpa menghilangkan nuansa dari teks asli.

Kelima, dalam pengerjaan penerjemahan, seorang penerjemah perlu menambahkan glosarium dan panduan gaya pada naskah yang sudah diterjemahkan, yang akan bertindak sebagai pemandu bagi pembaca untuk lebih memahami keigo yang dimaksud di teks asli.

Dan yang terakhir, jangan lupa kirimkan teks hasil terjemahan kepada native speaker bahasa Jepang agar ia bisa memberikan penilaian akhir mengenai terjemahan yang sudah dikerjakan dari kacamata penutur bahasa tersebut dalam proses yang disebut linguistics quality assessment (LQA). Jangan sekali-kali menggunakan AI seperti ChatGPT atau Google Gemini dalam proses LQA, karena AI hanya mengerti makna harfiah dari teks yang diberikan, bukan makna sosialnya.

Wordsmith Group Siap Membantu Penerjemahan Teks Bahasa Jepang Anda

Wordsmith Group Siap Membantu Penerjemahan Teks Bahasa Jepang Anda - Wordsmith Group

Sumber: unsplash.com

Sekarang bayangkan situasi ketika Anda harus menerjemahkan teks novel dalam bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Mungkin novel Keigo Higashino terbaru yang belum ada versi bahasa Indonesianya? Atau mungkin Anda ingin membaca novel Strange Pictures dari Uketsu yang belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia? Jangan khawatir soal proses penerjemahan yang mungkin membuat pusing.

Wordsmith Group memiliki pengalaman dalam menerjemahkan teks bahasa Jepang ke bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia dengan penerjemah yang andal di bidangnya. Kami siap melaksanakan proses penerjemahan yang secara mulus mengatasi semua tantangan keigo, sehingga media bahasa Jepang dapat dialihbahasakan menjadi media bahasa Indonesia yang bisa dinikmati oleh khalayak umum.

Silakan hubungi Wordsmith Group untuk mendapatkan penerjemahan akurat dan efisien dari teks bahasa Jepang Anda!

Other Post

Syuting Film dan Jasa Interpreter

Syuting Film dan Jasa Interpreter

Pada akhir Januari yang lalu, Indonesia dihebohkan dengan kedatangan bintang film laga dari Korea Selatan, Ma Dong-seok, serta Lalisa “Lisa” Manoban, personel dari grup K-pop terkenal BLACKPINK. Mereka datang ke Indonesia untuk syuting film Tygo, yang merupakan...