Apakah Machine Translation Dapat Dipercaya?

by | Feb 20, 2026 | blog

Kita sering sekali mengandalkan aplikasi berbasis machine translation dalam kehidupan sehari-hari untuk menerjemahkan istilah-istilah asing di sekitar kita, tapi pernahkan kita berhenti sejenak dan berpikir, apakah hasil terjemahan mesin bisa kita percaya?

Mari kita ambil contoh cerita seorang pelancong yang pergi ke negeri China; sebuah kisah yang benar-benar terjadi. Setelah seharian berjalan-jalan, pelancong tersebut merasa haus lalu mampir ke sebuah kedai minuman. Karena menu di kedai tersebut ditulis sepenuhnya dalam bahasa Mandarin dengan aksara Hanzi, maka pelancong tersebut menggunakan Google Lens untuk menerjemahkan tulisan yang ada di menu tersebut.

Namun, betapa terkejutnya sang pelancong ini ketika mendapati hasil terjemahannya. Alih-alih mendapatkan nama-nama minuman yang menggugah selera, ia mendapati bahwa menu tersebut berisikan kata-kata seperti “meriam ganda gairah”, “hajar bajingan dengan teh lemon”, dan “jus es bayberry” di samping nama-nama minuman konvensional seperti es teh semangka dan teh lemon.

Cerita Pelancong - Wordsmith Group

Sumber: IG @andikawirateja

Frase-frase berkonotasi negatif seperti “hajar bajingan” ataupun metafora “meriam ganda” tidak seharusnya ada dalam menu kedai minuman, tetapi sebagai akibat dari kegagalan mesin dalam memahami idiom lokal atau nama menu kreatif, maka kata-kata tersebut keluar di hasil machine translation seseorang. 

Pengalaman sang pelancong hanyalah secuil kecil dari banyaknya contoh hasil terjemahan machine translation yang tidak bisa sepenuhnya kita percaya. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Sejauh mana kita dapat mengandalkan machine translation untuk komunikasi yang bersifat kontekstual dan sensitif secara budaya?

Apa itu Machine Translation?

Apa itu Machine Translation - Wordsmith Group

Sumber: freepik.com

Secara singkat, machine translation mengacu pada proses dan hasil terjemahan yang dikerjakan sepenuhnya oleh mesin, tanpa campur tangan manusia sama sekali. Terjemahan yang dikerjakan oleh mesin bisa dibagi menjadi dua, berdasarkan cara kerja mesin tersebut. Ada yang berbasis algoritma dan machine learning seperti Google Translate, Translate.com, dan situs-situs penerjemah konvensional lainnya, dan ada juga yang menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam membuat terjemahan yang lebih akurat dan alami seperti DeepL, Google Gemini, dan ChatGPT. Para pengembang machine translation sering mengklaim bahwa hasil terjemahan mesin seiring waktu akan makin mirip dengan terjemahan manusia berkat kombinasi dari machine learning dan AI yang berjalan lurus dengan makin banyak digunakannya aplikasi-aplikasi machine translation.

Penggunaan machine translation banyak digemari oleh masyarakat umum karena terjemahan menggunakan mesin umumnya bisa dikerjakan secara cepat, sehingga dianggap lebih praktis dan efisien untuk tiap situasi dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, pada akhirnya, meskipun machine translation berusaha keras untuk menyamai terjemahan manusia, ada beberapa aspek yang sulit dikejar sehingga hasil terjemahan mesin tidak bisa sepenuhnya dipercaya begitu saja.

Mengapa Machine Translation Tidak Bisa Sepenuhnya Dipercaya?

Mengapa Machine Translation Tidak Bisa Sepenuhnya Dipercaya - Wordsmith Group

Sumber: freepik.com

Meskipun machine translation tergolong praktis dan efisien, teknik penerjemahan tersebut masih punya beberapa kekurangan, di antaranya adalah:

  • Kurang memahami konteks dan ambiguitas

Hasil terjemahan mesin masih kurang bisa memahami konteks dan ambiguitas yang ada dalam satu bahasa, karena mesin hanya berfungsi berdasarkan probabilitas statistik dan pola data. Dalam berbagai bahasa, terdapat banyak kata-kata yang meskipun tulisannya sama, tetapi artinya berbeda berdasarkan konteks. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat kata “bisa” yang menggambarkan kemampuan seseorang (can/able). Namun, kata “bisa” juga berarti racun hewan (venom). Tanpa konteks yang kuat, mesin tidak akan dapat memberikan penerjemahan yang akurat dan hanya bisa menebak-nebak.

  • Kurang memahami nuansa budaya dan idiom

Sepintar-pintarnya Artificial Intelligence, tentu yang namanya mesin masih kesulitan memahami nuansa kebudayaan yang terkandung dalam suatu bahasa. Mesin juga tidak akan bisa memahami idiom-idiom yang membuat suatu bahasa unik. Sebagai contoh, istilah “piece of cake” dalam bahasa Inggris merupakan idiom yang mengungkapkan sesuatu yang sangat mudah dikerjakan, tetapi machine translation pasti akan menerjemahkannya menjadi “sepotong kue”. Tentu sudah melenceng jauh dari konteksnya, bukan?

  • Kurang memahami struktur gramatikal yang kompleks

Nah, poin ini mengingatkan saya pada masa-masa perkuliahan dulu di Jepang. Pada tahun pertama kuliah di Jepang, saya diwajibkan mengikuti kursus bahasa Jepang dasar dan PR-nya banyak sekali. Sempat saya terpikir, “Apakah saya bisa mengambil jalan pintas dengan menggunakan Google Translate?” Saking malasnya saya mengerjakan PR grammar tersebut, saya menjawabnya dengan hasil copas dari Google Translate. Hasilnya bagaimana? Nilai saya jeblok total. Dari situ saya belajar, machine translation tidak bisa memahami struktur gramatikal yang kompleks dari sebuah bahasa.

Tiap bahasa memiliki struktur gramatikalnya masing-masing. Itulah yang membuat tiap bahasa unik. Meskipun machine translation diklaim bisa belajar dari hasil penggunaan selama bertahun-tahun melalui neural machine learning, mereka masih kesulitan menerjemahkan kalimat dan paragraf yang memiliki struktur gramatikal tertentu, terutama untuk kalimat yang terlihat kompleks dan kelewat formal atau kalimat yang sangat informal.

  • Kurang memahami kecerdasan emosional

Sepintar-pintarnya mesin dalam melakukan proses translation, pasti ia akan kesulitan memahami konteks emosi yang ada dalam sebuah kalimat. Apakah kalimat itu sarkastik? Menunjukkan rasa tidak nyaman? Atau menunjukkan urgency? Mesin tidak akan bisa memahami emosi-emosi tersebut. Dalam proses penerjemahan karya kreatif, ketidakmampuan mesin dalam menginterpretasi emosi bisa berakibat fatal pada hasil terjemahan.

Mengapa Human Translation Lebih Diunggulkan?

Mengapa Human Translation Lebih Diunggulkan - Wordsmith Group

Sumber: freepik.com

Machine translation boleh saja memakan waktu lebih sedikit, dapat digunakan secara gratis, dan juga bisa digunakan kapan saja dalam situasi apa pun. Namun, pada akhirnya, terjemahan yang dikerjakan oleh manusia (human translation) lebih unggul dan lebih diprioritaskan dalam latar profesional, serta terbukti lebih akurat dan masuk akal. Berikut ini adalah alasan-alasannya:

  • Kemampuan transkreasi

Penerjemah manusia dapat melakukan proses transkreasi dalam pekerjaannya. Transkreasi, atau adaptasi kreatif, merupakan proses menerjemahkan sebuah pesan dari satu bahasa ke bahasa lain dengan menyesuaikan konteks, gaya, nada, dan budaya negara asal budaya tersebut, agar pesan tersebut tetap relevan dan efektif bagi audiens. Dalam proses transkreasi, fokus utama penerjemahan adalah pada emosi dan dampak pesan terhadap audiens.

Contohnya adalah tagline dari Nike yang ikonik, “Just Do It”. Tentu tagline tersebut tidak bisa diterjemahkan secara harfiah ke “Lakukan Saja”, bukan? Penerjemah akan mencari padanan kata yang pas untuk menerjemahkan tagline tersebut sesuai artinya, tanpa menghilangkan dampak emosi yang ada.

  • Memahami maksud dari penulis (subteks)

Dalam melaksanakan penerjemahan, mesin hanya akan bisa membaca yang tertulis. Sebaliknya, penerjemah manusia akan menangkap yang tersirat dari pesan yang akan diterjemahkan. Translator dapat menangkap dan membayangkan emosi sarkasme, ironi, atau humor yang terkandung dalam suatu tulisan, dialog, atau narasi. Misalkan ada tulisan “Bagus sekali kerjamu!” yang memiliki nada sinis, mesin hanya akan menangkap tulisan tersebut sebagai sebuah pujian belaka. Namun, penerjemah manusia akan menangkap maksud tersirat dari tulisan tersebut dan membuat terjemahan yang bisa menangkap sarkasme dan sinisme yang terkandung dalam tulisan itu.

  • Pengetahuan budaya lokal (pelokalan)

Karena bahasa adalah bagian dari norma sosial, translator harus mengetahui seluk beluk tatanan bahasa tersebut dan hubungannya dengan tingkat sosial sebuah masyarakat. Dengan demikian, penerjemah dapat mengetahui saat harus menggunakan bentuk bahasa yang formal atau informal alias bahasa gaul. Hal ini sulit dipahami oleh penerjemah mesin, yang sering keliru menggunakan kata “kamu” (santai) dan Anda (sopan) jika tidak ada petunjuk eksplisit dalam teks.

  • Konsistensi dalam terminologi spesifik

Dalam dokumen yang bersifat teknis, seperti dokumen hukum atau jurnal kedokteran, sebuah istilah haruslah diterjemahkan secara konsisten pada keseluruhan dokumen tersebut, yang bisa mencapai lebih dari 100 halaman. Machine translation memang dapat menerjemahkan istilah-istilah tersebut, tetapi tidak mampu mempertahankan konsistensi penerjemahan karena istilah tersebut terpengaruh oleh kalimat-kalimat di sekitarnya dalam proses penerjemahan. Penerjemah manusia, di sisi lain, memiliki logika penalaran untuk memastikan tiap istilah teknis konsisten penerjemahannya dari awal sampai akhir.

Pada akhirnya, mesin hanya bisa menerjemahkan teks. Namun, penerjemah manusia dapat menerjemahkan pesan di balik teks tersebut. Translator manusia memiliki fleksibilitas, kualitas, dan sensitivitas untuk membuat hasil terjemahan lebih alami dan sesuai dengan konteks yang ada.

Wordsmith Group sebagai Mitra Translator Anda

Wordsmith Group sebagai Mitra Translator Anda - Wordsmith Group

Sumber: freepik.com

Sebagai agensi yang bergerak di bidang linguistik, Wordsmith Group dapat membantu proyek translation Anda, baik proyek skala kecil maupun skala besar. Wordsmith Group berpengalaman dalam penerjemahan di bidang apa pun, dengan translator kompeten yang andal di bidang masing-masing. Kami dapat menjamin bahwa hasil terjemahan kami akurat dan valid sesuai konteks teks aslinya. Niscaya, kejadian seperti yang menimpa pelancong di awal artikel ini tidak akan terjadi pada hasil terjemahan Anda.

Tingkatkan translation Anda dengan menghubungi Wordsmith Group!

Other Post

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Jasa Interpreter

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Jasa Interpreter

Di dunia yang sudah makin terhubung ini, perbedaan bahasa sudah bukan menjadi penghalang dalam berkomunikasi. Yang disebut language barrier perlahan-lahan sudah mulai terkikis, bahkan bisa dibilang mungkin runtuh. Salah satu faktor penyumbang di balik situasi ini...

Tips Menghindari Penipuan Jasa Penerjemah

Tips Menghindari Penipuan Jasa Penerjemah

Saat ini, kebutuhan akan layanan penerjemahan tersumpah makin meningkat, terutama untuk dokumen resmi seperti ijazah, kontrak kerja, hingga dokumen imigrasi. Namun, di balik kemudahan layanan online yang ditawarkan sekarang, risiko penipuan juga ikut meningkat. Banyak...

Checklist Lengkap Sebelum Publish Annual Report

Checklist Lengkap Sebelum Publish Annual Report

Sebelum Annual Report dipublikasikan, proses pengecekan akhir wajib dilakukan secara menyeluruh, bahkan ketika Anda sudah menggunakan jasa penyusunan Annual Report profesional. Dokumen ini bukan sekadar laporan tahunan biasa, melainkan representasi resmi kinerja dan...