Wordsmith Group’s ESG Club: Creating Social Impact through ESG

oleh | Mar 28, 2023 | blog

Ketertarikan para pelaku bisnis pada penerapan ESG (Environmental, Social, Governance), semakin mendorong Wordsmith Group untuk membahasnya secara lebih mendalam. Kami pun mewadahi perkumpulan ESG Club dengan menyelenggarakan serial talkshow yang bertajuk “Creating Social Impact through ESG”. 

Talkshow ini dikhususkan bagi para peserta yang ingin mendalami dan membandingkan cara menyeimbangkan 3P (People, Planet, dan Profit) dalam setiap kegiatan bisnis. Melalui talkshow ini, kita akan lebih lanjut mengetahui bagaimana strategi keberlanjutan tiga perusahaan ternama yang diwakili oleh pemimpin dari industri bisnis yang berbeda. 

Ada tiga narasumber yang kami undang, yaitu Ibu Nunik Maharani selaku Director of Sustainability and Corporate Communications di ANJ Group, lalu Ibu Aliya Amitra Tjakraamidjaja sebagai COO & Founder Tinkerlust & Stellar Women, dan Bapak Tommy Wattimena selaku CEO dari Great Giant Foods. Ketiga narasumber memberikan materi yang berbeda-beda. 

Talkshow ESG Club ini diadakan pada Rabu, 8 Maret 2023 di Rumah Wijaya dan dipandu oleh Ibu Puri Lestari, Co-Founder We Mean Business, sebagai moderator. Terlihat antusiasme yang begitu tinggi dari banyaknya para peserta dan tamu undangan yang hadir dan mengikuti runtutan acara dari awal hingga akhir. Oleh karena itu, Wordsmith Group akan mengadakan serial talkshow ESG Club ini setiap triwulan. 

Para narasumber menyampaikan materi penerapan ESG sesuai bisnisnya masing-masing.

General Manager Wordsmith Group, Iskandar Julkarnaen, membuka talkshow ini dengan menyampaikan bahwa semua orang atau company berhak berkontribusi untuk mengarusutamakan isu ESG demi kepentingan manusia dan alam. “Kami percaya sudah lewat masanya perusahaan atau bisnis hanya mementingkan dirinya sendiri, namun juga harus peduli lingkungan dan kemanusiaan. Contohnya, tata kelola perusahaan untuk bisnis yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Sebab, dampak ESG akan kembali kita semua”, ucap Pak Iskandar.  

Forging ESG Initiatives for Corporate Sustainability

Pemateri pertama dibawakan oleh Ibu Nunik dengan tema “Forging ESG Initiatives for Corporate Sustainability”. Pertama-tama, beliau memfokuskan apa arti dari ESG itu sendiri. Menurutnya, sebelum ESG ramai diperbincangkan, orang-orang sebelumnya berfokus pada CSR. Yakni, suatu kerangka para stakeholder terutama investor untuk mengukur risiko-risiko keberlanjutannya. Sebuah bisnis harus memiliki prinsip tidak boleh merusak lingkungan, serta memperhatikan prinsip-prinsip yang menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM).  

Nunik Maharani, Director of Sustainability and Corporate Communications di ANJ Group.

Kemudian beliau menjelaskan seluk beluk ANJ Group yang merupakan perusahaan pangan berbasis agribisnis untuk meningkatkan kehidupan manusia dan alam. Ibu Nunik menuturkan bahwa produk ANJ adalah sagu dan edamame yang dijual di Jepang dan mulai ke Australia dan Amerika. “Dengan berfokus untuk keberlangsungan hidup manusia, ANJ pertama kali membuat Sustainability Report (SR) pada tahun 2016. Pendekatannya berbasis risiko, yakni perusahaan mengelola risiko environment, social, dan government. Sebab, perubahaan iklim sangat krusial untuk agribisnis”, kata Ibu Nunik. 

Terakhir, beliau menyimpulkan bahwa masing-masing bisnis atau perusahaan harus memiliki langkah dan komitmen untuk penerapan ESG. Leadership empowerment dari petinggi perusahaan diturunkan ke semua stakeholders terkait, tidak bisa dari satu divisi saja. Semua saling bekerja bersama-sama dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. 

Unlocking Fashion, Sustainability and Circular Economy

Pemateri selanjutnya adalah Ibu Aliya, yang memiliki latar belakang pekerjaan di perbankan, namun kini berbisnis menjual barang preloved. Berawal dari impiannya menciptakan sebuah ekonomi kreatif, kini ia berfokus pada cara bisnis kecil memberikan dampak pada ESG. 

Ibu Aliya juga memaparkan bahwa ternyata Australia dan Amerika memiliki pasar preloved fashion yang cukup besar. Hal ini menjadi wadah bagi pembeli dan pecinta fashion dengan penjual yang ingin menjual barang-barangnya. Tentu saja, ada sistem kurasi untuk barang yang masuk agar diuji kelayakannya terlebih dahulu. Terutama, dari brand-brand ternama. 

Aliya Amitra Tjakraamidjaja, COO & Founder Tinkerlust & Stellar Women.

Berbeda dengan Indonesia yang belum memiliki awareness terhadap barang preloved sekitar tahun 2015–2017. Akhirnya, beliau melakukan kerja sama dengan beberapa komunitas untuk memulai menjajakan pakaian atau barang preloved. Tujuannya adalah untuk membantu menjaga lingkungan, karena perputaran fast fashion bisa mencapai 10-16 koleksi dalam setiap season. Itu artinya semakin banyak sumber daya yang digunakan. 

Beliau pun menciptakan sebuah bisnis sebagai jawaban dari kurangnya pilihan toko preloved yang terpercaya di Indonesia. Adalah Tinkerlust yang menjadi one stop shopping berbagai kebutuhan fashion wanita maupun pria. Tak hanya pembeli, Tinkerlust juga menjadi platform terbaik untuk menjual barang-barang yang telah dipakai. 

Selain untuk mendukung UMKM dengan tidak menggunakan ekspor impor, bisnis preloved ini benar-benar menerapkan sustainability goals. “Dengan inisiatif, kolaborasi, dan investasi yang tepat, kita dapat menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan untuk generasi berikutnya”, kata Ibu Aliya. 

Circular Economy Taking Sustainability into Value Creation

Pemateri terakhir dibawakan oleh Pak Tommy yang mengatakan jika ESG adalah tanggung jawab dari pimpinan tertinggi ke semua komponen. ESG juga bukan hanya finansial saja, tetapi juga bagaimana efeknya terhadap lingkungan hidup. 

Ia memaparkan sebuah data bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-2 “Food Waste Contributor In The World”. Hal ini pun menjadi concern agar bisa menjadi survivable company yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, manage waste dijadikan cara dan value khusus dalam penerapan ESG. 

Tommy Wattimena, CEO dari Great Giant Foods.

Tantangan ke depannya adalah bagaimana kita dapat menerapkan kembali traditional practices. Yaitu, dengan cara menerapkan: REDUCING, REUSING and RECYCLING waste. Selain itu, cara lainnya adalah dengan UPCYCLING barang-barang yang masih memiliki potensi digunakan kembali.

Setelah tiga pemateri menyampaikan paparannya, penutupan acara diisi dengan sesi tanya jawab dari para peserta. Diskusi ini sangat mengundang antusiasme peserta yang hadir. Kami telah merangkum tiga pertanyaan dan jawaban yang paling menarik. 

Sesi tanya jawab dan diskusi yang menarik, berbobot, dan penuh insight.

“Bagaimana pendapat Ibu Aliya mengenai thrifting dari Korea Selatan yang diprotes oleh Indonesia, karena lebih murah dan berkualitas?” Bu Aliya pun tidak setuju akan supply dari negara lain, sebab limbah fashion bisa menjadi lebih murah karena dijual kiloan atau ton. Oleh karena itu, agar merek fashion lokal kita tidak kehabisan barang, harus didukung dari pemerintah dan masyarakat. Yakni dengan cara memperketat barang impor yang masuk ke Indonesia, demi mengurangi “limbah” dari luar negeri. 

“Kegiatan operasional membutuhkan peralatan yang sudah tua dan tidak hemat energi. Bagaimana investasi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, sebab masih banyak perusahaan Indonesia yang membutuhkan growth namun harus tarik ulur dengan faktor lain?” Menurut Bu Nunik, investasi ESG tidak murah dan harus ditentukan risiko material, seperti perubahan iklim. Perusahaan yang pondasinya kuat tidak perlu khawatir dengan ESG. Sebab, ada hal yang tidak perlu biaya tinggi, seperti investasi infrastruktur pencegah kebakaran dan edukasi untuk masyarakat. Sementara menurut Pak Tommy, untuk biaya investasi ESG sebaiknya manajemen mengurangi biaya yang tidak perlu. 

“Bagaimana caranya untuk bisa approach langsung ke petani  untuk ekonomi yang lebih baik?” Bu Nunik menjelaskan dengan cara pola kerja sama, yaitu perusahaan yang tidak punya lahan kemudian bekerja sama dengan petani yang akan mengelola lahan. Lalu dicarikan juga tenaga kerja lainnya, kemudian diberikan bantuan berupa bibit, yang intinya menjadi partnership. Hasil produksi dan keuntungannya pun akan dibagi sesuai kesepakatan bersama. 

Talkshow ini didukung oleh Infobank sebagai media partner dan fabrik+Ink sebagai penyedia hadiah doorprize.

Talkshow dari Wordsmith Group ini mendapatkan komentar positif dari beberapa peserta. Bu Edrida dari Setjen DPD RI, mengatakan jika diskusi ESG Club harus sering dilaksanakan. “Sebab, masyarakat butuh edukasi mengenai lingkungan yang berkolaborasi antara swasta, pemerintah, dan akademisi. Anak muda harus banyak dilibatkan sehingga misi pembangunan di Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yang luar biasa”, ucap Bu Edrida. 

Peserta lainnya, Pak Antonius dari Gokomodo, merasa bahwa talkshow ini mendekatkan perusahaan besar ke berbagai lini bisnis lainnya, sehingga banyak pengetahuan penting yang didapatkan. Sama halnya dengan Pak Gregorius dari PT Moelti Artha Cakra Sentosa, yang akan menunggu pertemuan ESG Club ini kembali diadakan karena mendapatkan banyak ilmu baru yang berguna. 

Dapatkan informasi serial Talkshow ESG Club selanjutnya dengan mengikuti media sosial Instagram kami di @wordsmithgroup. 



Other Post