Seorang interpreter dituntut untuk mampu menerjemahkan pesan yang disampaikan oleh pembicara secara tepat dan akurat, baik itu dengan metode consecutive maupun simultaneous. Dalam pekerjaannya, interpreter rawan terkena cognitive load, terutama dalam situasi yang memerlukan fokus intensif, seperti konferensi berskala besar atau pidato yang berdurasi panjang.
Cognitive load merupakan musuh bebuyutan semua interpreter. Kondisi ini mengacu pada situasi ketika otak interpreter sudah mencapai batas kognitif manusia pada umumnya, sehingga mengalami kelelahan mental dan hasil kerjanya mengalami penurunan kualitas dan kehilangan informasi. Pada metode consecutive, masalah ini tidak terlalu kentara, karena pembicara dan interpreter berbicara bergantian. Namun, risiko ini tetap ada jika pembicara menghabiskan waktu terlalu lama dalam menyampaikan pesannya. Secara umum, cognitive load merupakan momok pada metode simultaneous, karena pembicara dan interpreter berbicara berbarengan. Oleh karena itu, penggunaan sepasang interpreter yang bekerja bergantian pada satu acara sudah menjadi standar dalam metode simultaneous interpreting.
Bagaimana cara interpreter menyikapi dan mengatasi tantangan cognitive load? Silakan simak artikel ini.
Strategi Interpreter dalam Mengatasi Cognitive Load

Sumber: freepik.com
Terdapat tiga strategi yang biasa digunakan interpreter dalam menyikapi masalah dan tantangan yang ditimbulkan oleh cognitive load. Ketiga strategi ini dibagi menjadi strategi persiapan (sebelum acara), strategi eksekusi (ketika bertugas), serta strategi teknis dan lingkungan.
- Strategi persiapan
Strategi persiapan merupakan hal-hal yang dilakukan oleh interpreter untuk mengatasi cognitive load sebelum melaksanakan pekerjaannya. Strategi ini meliputi mempersiapkan glosarium yang matang serta melaksanakan briefing dengan pembicara.
- Mempersiapkan glosarium
Glosarium dalam konteks interpreter merujuk pada daftar istilah asing yang akan sering muncul dalam pesan yang dibawakan pembicara. Makin banyak istilah asing yang harus dicari dalam memori selagi pembicara menyampaikan pesannya, makin besar pula beban yang harus ditanggung oleh otak. Dengan menyusun daftar istilah asing yang akan muncul selagi meriset topik yang akan dibicarakan, interpreter akan lebih cepat menemukan dan menerjemahkan istilah-istilah tersebut. Glosarium ini umumnya disusun dengan metode mind-mapping, yaitu memetakan topik yang akan dibicarakan dengan menuliskan istilah-istilah, sehingga interpreter dapat lebih mudah menghafalkan terminologi yang akan digunakan.
- Briefing dengan pembicara
Interpreter harus meminta materi presentasi pembicara setidaknya 24 jam sebelum acara agar ia dapat memahami topik pembicaraan dengan baik secara menyeluruh. Selain itu, interpreter dapat melakukan briefing dengan pembicara agar keduanya dapat menyatukan frekuensi dalam penyampaian pesan dan memastikan kelancaran acara. Sinergi yang sempurna antara pembicara dan interpreter dapat mengurangi kemungkinan interpreter mengalami cognitive load di tengah-tengah pekerjaan.
- Strategi eksekusi
Strategi eksekusi merujuk pada hal-hal yang dilakukan oleh interpreter untuk mencegah terjadinya cognitive load ketika sedang bekerja di sebuah acara. Strategi-strategi ini biasanya dilaksanakan secara spontan seiring kebutuhan interpreter saat bekerja.
- Menerapkan prinsip economy of expression
Prinsip economy of expression merujuk pada penggunaan kalimat efektif dan ringkas dalam menyampaikan pesan dari pembicara. Sering kali interpreter terjebak dalam cognitive load karena terlalu fokus menyusun struktur kalimat yang terlampau kompleks. Hal yang penting dalam penyampaian pesan dari pembicara adalah makna utama dari pesan tersebut tetap terjaga walaupun diucapkan dengan bahasa yang berbeda, dan prinsip economy of expression akan menjaga kelestarian makna tersebut.
- Teknik deverbalization
Teknik deverbalization mengacu pada kemampuan interpreter untuk melepaskan diri dari kata-kata asli dan menangkap gambaran visual atau konsepnya. Dengan kata lain, sambil mendengarkan pesan dari pembicara, interpreter akan mulai melakukan visualisasi pesan dalam bentuk gambar, video, atau diagram dalam pikirannya. Dengan cara ini, otak tidak akan bekerja keras untuk mengingat kembali deretan teks, sehingga mengurangi resiko cognitive load.
- Aturan 30 menit
Sudah menjadi standar bahwa dalam metode simultaneous, harus ada sepasang interpreter yang bekerja di suatu acara. Kedua interpreter ini akan bergantian bekerja dengan interval waktu tertentu (biasanya 30 menit) agar tidak mengalami cognitive load akibat banyaknya materi yang disampaikan pembicara. Selagi seorang interpreter bertugas, pasangannya akan melakukan passive monitoring dan memberikan dukungan dalam bentuk pencatatan nama dan istilah yang sekiranya sulit diingat.
- Strategi teknis dan lingkungan
Strategi ini mengacu pada cara interpreter mengakali masalah cognitive load dengan menyesuaikan kondisi teknis dan lingkungan di lokasi acara sehingga proses penjurubahasaan bisa berjalan lancar.
- Meminimalkan gangguan audio
Gangguan teknis pada sound system tempat acara dapat mengganggu fokus interpreter dan meningkatkan risiko cognitive load. Pastikan bahwa headphone yang digunakan dilengkapi fitur noise-cancelling yang mumpuni dan mikrofon pembicara dalam kondisi optimal.
- Menggunakan panduan visual
Panduan visual di bilik interpreter seperti catatan angka dan nama serta jam digital dapat membantu interpreter mempertahankan fokus saat bekerja sekaligus meningkatkan koordinasi dengan rekan kerja yang akan menggantikannya.
Menjaga Otak Interpreter Tetap dalam Kondisi Prima

Sumber: freepik.com
Selain melakukan strategi-strategi yang sudah disebutkan tadi, risiko cognitive load juga dapat dikurangi secara signifikan jika otak interpreter dalam kondisi prima saat persiapan dan eksekusi. Agar performa otak dapat tetap maksimal dalam melakukan pekerjaannya, inilah hal-hal yang bisa dilakukan oleh interpreter.
- Latihan kelenturan otak (neuroplasticity)
Otak dapat dilatih agar tetap lentur dan sigap melakukan pekerjaan yang memerlukan fokus yang intens dengan melakukan beberapa latihan secara rutin. Pertama, dengan dual-tasking yang melatih otak untuk memecah perhatian (berguna untuk mencatat poin-poin penting selagi mendengarkan pembicara). Kedua, shadowing, yaitu latihan teknik membuntuti ucapan pembicara dalam bahasa yang sama dengan jeda waktu singkat untuk melatih sinkronisasi antara pendengaran dan ucapan. Yang terakhir, sintesis cepat untuk melatih otak menangkap inti pembicaraan dan tidak sekadar membuat transkrip pembicaraan.
- Manajemen memori kerja
Memori jangka pendek merupakan aset yang penting bagi interpreter. Oleh sebab itu, mengelola memori jangka pendek untuk menangkap poin-poin penting dari pembicara merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh interpreter. Keterampilan ini bisa dilatih dengan cara melakukan chunking (mengelompokkan informasi besar menjadi potongan-potongan kecil yang lebih mudah diingat) dan visualisasi mental mengenai poin-poin penting sebagai media visual dalam pikiran.
- Nutrisi dan hidrasi khusus otak
Dehidrasi dan gula darah rendah dapat memengaruhi performa otak untuk berpikir dan bekerja. Dalam kondisi prima, otak mengonsumsi 20% dari energi yang ada di tubuh kita dan dalam kondisi cognitive load, tentu energi yang dibutuhkan akan lebih banyak. Konsumsi ikan berlemak, kenari, atau suplemen minyak ikan yang mengandung Omega-3 untuk menjaga kesehatan membran sel saraf serta rajin minum air untuk menjaga hidrasi otak. Hindari lonjakan gula yang ekstrem dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks (seperti gandum atau buah) agar otak tetap mendapatkan pasokan energi yang stabil.
- Protokol istirahat dan tidur
Tubuh manusia membutuhkan tidur setidaknya 7–8 jam untuk tetap berfungsi secara optimal, termasuk mempertahankan kinerja otak untuk berpikir dan berproses. Proses interpreting pastinya akan membuat otak lelah, maka power nap selama 15–20 menit di sela-sela waktu istirahat konferensi atau acara besar lainnya terbukti secara ilmiah dapat menyegarkan kembali fungsi kognitif. Hindari penggunaan ponsel atau kebisingan apa pun setelah bekerja selama beberapa menit agar otak dapat pulih dari stimulasi berlebih.
Mencegah Cognitive Load Kunci Interpreter Andal
Cognitive load adalah sebuah masalah mendasar yang harus dihadapi interpreter, baik pemula maupun yang sudah kenyang pengalaman. Memang, interpreter yang baru memulai karir akan merasa capek dan kewalahan menghadapi cognitive load, tetapi dengan strategi-strategi yang sudah dijabarkan di artikel ini, niscaya seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, mengatasi cognitive load akan menjadi sangat mudah.
Bicara soal interpreter berpengalaman, kami di Wordsmith Group memiliki jajaran interpreter yang andal dan cakap untuk menangani proyek berskala kecil maupun besar dan tentunya sudah cukup piawai menangani cognitive load. Jika Anda mencari interpreter berkualitas serta berpengalaman menangani klien dari berbagai latar belakang dan acara, jangan segan untuk kontak kami lewat email atau WhatsApp!



