Melewati Batas: Terjemahan dan Sastra di Dunia

oleh | Mar 25, 2022 | Feature

Salah satu tantangan terbesar dalam arena penerjemahan world literature adalah keseimbangan untuk tetap setia pada sebuah karya asli. Di sisi lain, menciptakan karya yang sepenuhnya unik dan membangkitkan respon yang sama dengan karya aslinya adalah hal yang penting.

Untuk mendiskusikan hal seputar relasi antara penerjemahan dan world literature, Wordsmith Group menyelenggarakan Webinar “Beyond Borders: Translation and World Literature”, yang merupakan bagian dari event Wordsmith Group Language Week.

Webinar ini menghadirkan perwakilan baik dari penulis, penerjemah, dan penerbit. Reda Gaudiamo mewakili penulis sastra Indonesia. John McGlynn mewakili penerjemah novel Indonesia ke bahasa Inggris. Nina Andiana, Managing Editor Bidang Fiksi & Anak Gramedia Pustaka Utama mewakili penerbit yang sering menerbitkan karya sastra terjemahan.

Karya sastra Indonesia yang diterjemahkan. Sumber: presentasi John McGlynn pada webinar Wordsmith Group Language Week

John McGlynn

Novel pertama dalam bahasa Indonesia pertama kali diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 1963. Karya tersebut berjudul Senja di Djakarta (Twilight in Djakarta) ciptaan Mochtar Lubis. Penerjemahan karya sastra Indonesia termasuk yang sedikit jika dibandingkan negara lain.

Burton Raffel adalah pejuang tunggal dalam menerjemahkan berbagai karya sastra Indonesia seperti prosa dan puisi pada tahun 1970-an. Salah satu karyanya adalah Modern Indonesian Poetry. Selanjutnya ada Harry Aveling yang menerjemahkan buku ciptaan Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Iwan Simatupang, dan Danarto.

Sementara itu, John McGlynn menerjemahkan karya Armijn Pane, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono, S. Rukiah, dan Toeti Heraty. Karya sastra Indonesia yang paling menonjol dalam penerjemahan dan penerbitan adalah milik Pramoedya. Karyanya telah diterbitkan ke lebih dari 50 bahasa asing.

Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata juga sudah diterjemahkan ke 40 bahasa asing. Beberapa novel dari Eka Kurniawan pun tak kalah sukses di kancah internasional. Misalnya, buku Man Tiger, Beauty Is A Wound, dan Kitchen Curse.

Jadi, hanya ada beberapa penulis Indonesia yang mendapatkan sorotan di luar negeri. Hal ini disebabkan kurangnya informasi penerjemahan buku, resensi buku, dan juga peneliti di luar negeri tidak mengetahui khazanah sastra Indonesia yang sebenarnya sangatlah beragam.

Akhirnya, pada tahun 1987 John mendirikan Yayasan Lontar agar bisa mengenalkan karya sastra Indonesia secara lebih luas. Sudah lebih dari 250 judul buku yang Lontar terjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Dengan adanya buku-buku tersebut banyak orang yang bisa mempelajari sejarah sastra Indonesia.

Lontar juga banyak menerbitkan buku secara lepas, di antaranya karya Goenawan Mohamad, Pramoedya, Muhammad Saleh, dan lain-lain. Berkat usaha Lontar selama 35 tahun ini, sastra Indonesia sudah diajarkan di berbagai negara di dunia menggunakan bahasa Inggris.

Indonesia juga pernah diundang menjadi tamu kehormatan ke acara Frankfurt Book Fair 2012. Ini merupakan pameran buku terbesar dan bergengsi di dunia. Kemudian, pada tahun 2014 Kemendikbud memberikan investasi besar-besaran untuk pengembangan penerjemahan buku di Indonesia.

Indonesia diundang ke Frankfurt Book Fair. Sumber: presentasi John McGlynn pada webinar Wordsmith Group Language Week

Sejak KBN (Komite Buku Nasional) dibubarkan karena dianggap tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, John menganggap masa depan sastra Indonesia menjadi suram kembali. Ia mengatakan tanpa sebuah ekosistem yang mendukung keberlanjutan penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa asing, Indonesia akan terus menerus terpinggirkan dari kancah internasional.

Nina Andiana

Sebagai seorang editor di Gramedia, Nina menjelaskan sejarah terbentuknya Gramedia terlebih dahulu. Gramedia Pustaka secara resmi berdiri pada tahun 1974. Jadi Gramedia adalah penerbit buku umum, seperti nonfiksi, fiksi, buku anak terjemahan maupun lokal. Buku pertama yang diterbitkan adalah buku dari Marga T yang berjudul Karmila. Hingga saat ini, ada sekitar 150 judul buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka yang sudah diterjemahkan ke bahasa lain.

Ada beberapa tantangan dalam penerjemahan buku, yaitu rights (pemilihan judul, review, dan kontrak), penerjemahan dan editing (memilih penerjemah yang tepat dan proses editing oleh editor), dan terakhir marketing (memperkenalkan buku ke pembaca).

Beberapa tahun terakhir ini buku-buku dari Asia itu mulai sangat digemari oleh pembaca Indonesia. Contohnya adalah buku-buku dari Jepang, Keigo Higashi No, Totto-Chan, dan Silence. Ada juga buku-buku dari Tiongkok, Korea, dan India yang digemari oleh pembaca Indonesia.

Kemudian terdapat beberapa buku dari Amerika Selatan yang juga diterjemahkan oleh Gramedia. Contohnya buku dari Isabella Allende, Elena Sarante, dan Juan Rufo. Selain Amerika, buku-buku dari Belgia, Prancis, dan Italia juga diterjemahkan.

Reda Gaudiamo

Menurut Reda, penerjemahan karyanya adalah suatu hal yang menyenangkan dan membanggakan. Ia bangga karena karyanya dipilih dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dibaca oleh pembaca baru yang tidak mengenal karyanya dalam arti lebih luas sebagai penulis Indonesia. Ia pernah merasa sedih saat bepergian ke luar negeri dan melihat bagaimana karya-karya penulis dari Vietnam atau Afrika sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris, seperti yang John katakan jika karya kita memang kurang dikenal.

Salah satu karya dari Reda yang diterjemahkan ke bahasa Inggris adalah novel Na Willa. Semenjak itu, ia memahami bahwa setiap penerjemah memiliki ciri khas terjemahannya masing-masing. Seperti John yang menerjemahkan bahasa Indonesia sesuai dengan padanan kata dalam bahasa Inggris. Sementara penerjemah lain biasanya tetap menggunakan istilah bahasa Indonesia tetapi memberikan catatan kaki mengenai artinya dalam bahasa Inggris. Contoh kata-kata tersebut adalah buah sawo, kue cucur, atau panggilan “mbok”. Namun begitu, kita bisa melihatnya sebagai upaya untuk memperkenalkan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia.

Sebagai penulis buku, Reda cukup puas dengan hasil terjemahan dari karyanya. Karena tidak menghilangkan makna cerita dan karakter tidak berubah dari penyampaian dialognya. Beberapa hal penting menurutnya adalah ceritanya tetap bagus, pemilihan kata yang pas, dan kalimatnya juga lancar.

Bagaimana cara memperluas karya terjemahan dan sastra Indonesia ke seluruh dunia? Simak video selengkapnya di bawah ini.

Oleh karena itu, demi mewujudkan kemajuan dalam terjemahan dan sastra Indonesia butuh dukungan yang kuat dari pemerintah. Hal ini akan membantu Indonesia lebih dikenal di kancah internasional sebagai negara yang berbudaya lewat karya sastra. Tanpa adanya dukungan tersebut, karya sastra Indonesia akan sulit untuk berkembang.

Layanan Terjemahan Wordsmith Group

Jika Anda membutuhkan berbagai jasa penerjemahan dalam bentuk apa pun termasuk Penerjemah Tersumpah, Wordsmith Group memiliki tim yang telah berpengalaman sejak 2011. Email kami di info@wordsmithgroup untuk inquiry Anda.

Sumber: Webinar Wordsmith Group Language Week

Other Post

Don't Leave Just Yet!

Enter your email below to receive the latest news and essential information from Wordsmith Group.

You have Successfully Subscribed!