Banyak orang yang salah kaprah bahwa sekadar menguasai satu atau dua bahasa asing sudah merupakan modal yang cukup untuk menjadi seorang interpreter. Padahal pekerjaan interpreter tidak segampang menerjemahkan pesan dari bahasa asing ke bahasa ibu atau sebaliknya. Keahlian berbahasa asing seseorang dalam kacamata interpreter bisa diinterpretasikan sebagai bahan mentah, yang harus diolah dengan serangkaian skillset kognitif yang harus dimiliki oleh interpreter sehingga bisa membuahkan hasil karya yang berkualitas tinggi.
Menjadi Interpreter Tidak Sekadar Menguasai Banyak Bahasa

Sumber: magnific.com
Menjadi polyglot atau mampu menguasai berbagai bahasa asing bukanlah persyaratan mutlak menjadi interpreter. Memang, kemampuan tersebut adalah persyaratan penting bagi interpreter, tetapi kemampuan polyglot seseorang harus didukung dengan serangkaian kemampuan lain agar bisa menjadi interpreter yang sejati. Kemampuan berbahasa interpreter hanyalah titik mulai, bukan tujuan akhir.
Terdapat perbedaan fundamental antara kemampuan berbahasa seseorang dengan keterampilan teknis. Menjadi bilingual atau polyglot adalah sebuah keadaan (mampu menguasai dua atau lebih bahasa asing), sedangkan interpreting adalah sebuah profesi (menerjemahkan pesan secara instan). Seorang bilingual atau polyglot mungkin bisa menjelaskan ide dalam dua atau lebih bahasa secara bergantian, tetapi seorang interpreter harus mampu mendengarkan, memproses, dan berbicara di saat yang bersamaan tanpa kehilangan satu detail pun.
Seorang interpreter juga harus mampu menghadapi beban kognitif yang ekstrem, mulai dari melakukan pemahaman makna dan nuansa budaya dari berbagai sumber (deciphering), menyimpan informasi jangka pendek sambil tetap mendengarkan kalimat berikutnya (memorizing), hingga menyusun struktur kalimat yang tepat di bahasa sasaran dalam hitungan detik (encoding)—semua dalam waktu bersamaan. Inilah sebabnya untuk metode simultaneous, harus ada minimal dua orang interpreter yang bertugas yang saling bergantian 30 menit sekali; karena jika interpreter sudah mengalami kelelahan mental, tingkat akurasi penerjemahannya akan berkurang drastis.
Seorang bilingual atau polyglot mungkin dapat berbicara dengan berbagai bahasa secara lancar di kehidupan sehari-hari, tetapi apakah mereka paham istilah hukum perdata, prosedur medis pembedahan jantung, atau istilah teknis pengeboran minyak? Interpreter profesional akan melaksanakan riset mendalam sebelum acara dimulai untuk memastikan tiap istilah teknis diterjemahkan dengan tepat sesuai konteks industri, atau dengan kata lain, menguasai terminologi spesifik yang berkaitan dengan industri yang menjadi tema acara.
Perbedaan paling krusial antara bilingual atau polyglot dengan interpreter terletak pada netralitas dan kode etika profesional. Seorang bilingual atau polyglot rentan mencampurkan opini pribadi ketika sedang menyampaikan sesuatu, sedangkan seorang interpreter sudah terikat kode etik untuk tetap netral dan tidak berpihak, menjaga kerahasiaan informasi (NDA), dan menyampaikan emosi dan intonasi pembicara tanpa mengubah substansi.
Dan yang terakhir, seorang bilingual atau polyglot sering kali mengalami stuttering atau jeda ketika mencari kata-kata yang tepat, sehingga berpotensi merusak alur komunikasi. Seorang interpreter memiliki teknik pengaturan jarak waktu agar transisi bahasa terasa mulus dan alami.
Ketika seseorang yang baru menguasai bahasa asing nekat menjadi interpreter, bisa diibaratkan sebagai seseorang yang baru bisa mengemudi langsung menjajal mobil F1. Meskipun prinsipnya sudah dapat, tetapi level keahlian dan risikonya sangatlah berbeda. Oleh karena itu mahir dalam berbahasa asing bukan syarat mutlak seseorang bisa menjadi interpreter.
Tips bagi Pemula yang Ingin Menjadi Interpreter

Sumber: magnific.com
Untuk para pemula yang sudah piawai bahasa asing dan berminat untuk menambah kompetensi agar dapat menjadi interpreter penuh waktu, Anda bisa melakukan hal-hal berikut ini agar penguasaan teknik dan keterampilan Anda makin terasah.
Perdalam Bahasa Ibu (A-Language)
Banyak pemula terlalu fokus belajar bahasa asing hingga melupakan bahasa asalnya sendiri. Seorang interpreter yang hebat harus mampu menyusun kalimat yang elegan, alami, dan kaya akan kosa kata dalam bahasa target (biasanya bahasa ibu). Para calon interpreter dapat memperdalam bahasa ibu mereka dengan membaca buku sastra, mendengarkan pidato resmi, dan mempelajari padanan istilah teknis dalam bahasa Indonesia yang baku.
Latih Kemampuan Mendengarkan Secara Aktif (Active Listening)
Seorang interpreter harus mampu mendengarkan secara aktif agar dapat menangkap makna di balik kata-kata yang diucapkan oleh pembicara, serta dapat memprediksi arah pembicaraan tersebut. Keterampilan ini bisa dilatih dengan mendengarkan podcast atau berita (seperti BBC atau CNN), lalu membuat ringkasan lisan secara instan dalam bahasa yang sama. Ini melatih otak untuk memproses informasi dengan cepat.
Kuasai Teknik Shadowing
Shadowing adalah latihan mengulang hal-hal yang diucapkan pembicara sesegera mungkin dengan jeda hanya sepersekian detik (dalam bahasa yang sama). Latihan ini bertujuan untuk melatih otak melakukan dua hal sekaligus: mendengarkan kata berikutnya sambil mengucapkan kata yang baru saja didengar. Ini adalah fondasi utama untuk simultaneous interpreting.
Membangun Glosarium Pribadi berdasarkan Sektor
Interpreter pemula tidak bisa menguasai semua bidang yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, seorang pemula harus memilih spesialisasi, seperti hukum, medis, teknologi, atau lingkungan. Buatlah glosarium pribadi dengan membuat buku catatan (atau file Excel) berisi terminologi khusus di bidang tersebut dalam dua bahasa. Hafalkan istilah-istilah yang sering muncul dalam konferensi internasional.
Asah Ketahanan Mental dan Konsentrasi
Pekerjaan seorang interpreter sangat melelahkan secara kognitif dan mental. Untuk melatih ketahanan kedua aspek tersebut, coba lakukan latihan menerjemahkan lisan selama 15 menit tanpa henti. Jika Anda mulai kehilangan fokus atau salah memilih kata, beristirahatlah dan coba lagi. Fokus adalah otot yang perlu dilatih.
Ambil Sertifikasi dan Bergabung dengan Komunitas
Kemampuan interpreter perlu diakui secara resmi. Pengakuan resmi tersebut dapat didapatkan melalui pelatihan profesional dan sertifikasi (seperti dari HPI – Himpunan Penerjemah Indonesia). Bergabung dengan komunitas akan memberi interpreter pemula akses ke mentor dan info lowongan kerja.
Jadi Bagaimana, Masih Mau jadi Interpreter?

Sumber: magnific.com
Menjadi seorang interpreter profesional jauh lebih kompleks daripada sekadar menguasai beberapa bahasa asing, karena kemampuan bahasa hanyalah modal dasar yang harus diolah dengan serangkaian keterampilan kognitif tingkat tinggi. Perbedaan krusial yang membedakan seorang polyglot dengan seorang interpreter terletak pada kemampuan teknis untuk mendengarkan, memproses makna, dan berbicara secara simultan tanpa kehilangan detail, serta kewajiban menjaga netralitas dan kode etik profesi yang ketat. Selain harus menguasai terminologi spesifik di berbagai bidang teknis, interpreter juga dituntut memiliki ketahanan mental yang kuat agar akurasi tetap terjaga di bawah tekanan beban kerja yang ekstrem. Oleh karena itu, bagi pemula yang ingin terjun ke bidang ini, sangat penting untuk mengasah bahasa ibu, melatih teknik shadowing, membangun glosarium spesialisasi, serta meraih sertifikasi resmi guna mengubah kemampuan bahasa mentah menjadi keahlian profesional yang kompeten.
Jika Anda membutuhkan jasa interpreter berkualitas tinggi, jangan khawatir. Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, jasa interpreting Wordsmith Group sudah dipercaya oleh klien dari berbagai industri. Kontak kami lewat email atau WhatsApp untuk memulai kolaborasi!



